Ciamis, Pewarta.id – Nanang Heryanto menegaskan tak akan berhenti memperjuangkan agenda restorasi organisasi di tubuh Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Ciamis.
“Kami kalah, tapi tidak akan diam,” kata Nanang saat ditemui di Lakbok, Minggu (6/7/2025).
Nanang dikenal sebagai kandidat yang mengusung semangat perubahan dalam kontestasi PGRI Ciamis.
Setelah pengurus baru terbentuk, ia memilih berada di luar struktur.
Kritik Keras untuk PGRI
Menurut Nanang, PGRI saat ini punya banyak tantangan serius. Salah satunya adalah lemahnya kaderisasi.
“Regenerasi bukan cuma soal ganti nama. Kita perlu kader militan yang benar-benar bekerja. Bukan cuma duduk di jabatan lalu diam,” tegasnya.
Nanang juga menyebut banyak kader yang vokal saat berada di luar, tapi melempem saat masuk ke struktur.
Menurutnya, itu bukan ciri organisasi sehat.
“Kita butuh orang-orang yang berani turun ke lapangan, bukan cuma hadir saat seremoni,” ucapnya.
Waspadai Masuknya Kepentingan Politik
Selain kaderisasi, Nanang juga menyoroti masuknya kepentingan luar ke tubuh PGRI.
“Kalau kader enggak punya pegangan nilai, PGRI bisa jadi alat kekuasaan. Padahal ini organisasi profesi guru, bukan perpanjangan tangan politik,” katanya.
Ia meminta agar pengurus baru menjaga independensi organisasi dan tetap berpihak pada kepentingan guru.
Tetap Bergerak Tanpa Jabatan
Meski tak punya jabatan di struktur, Nanang menegaskan masih akan terus aktif.
Ia menyebut perubahan bisa didorong dari luar.
“Restorasi enggak harus dari dalam. Jabatan itu bukan ukuran loyalitas,” tegasnya.
Nanang juga mengajak semua pihak di PGRI untuk menjaga organisasi agar tetap berpijak pada nilai perjuangan, bukan kepentingan pribadi.
“PGRI ini rumah besar guru. Jangan biarkan hilang jiwanya karena ambisi sesaat,” pungkasnya.***











