CIAMIS, Pewarta.id – Suasana akhir pekan di wilayah Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, berubah menjadi mencekam pada Sabtu sore (28/03/2026). Hujan dengan intensitas sangat tinggi yang disertai angin kencang atau puting beliung dilaporkan menerjang kawasan tersebut, mengakibatkan kerusakan masif pada pemukiman penduduk serta sejumlah fasilitas umum. Puluhan bangunan dilaporkan mengalami kerusakan berat, terutama pada bagian atap yang tersapu kuatnya embusan angin.
Kronologi Kejadian: Langit Gelap dan Angin Kencang Mendadak
Berdasarkan laporan di lapangan, cuaca ekstrem ini mulai menunjukkan gejalanya sejak siang hari. Sekitar pukul 14.42 WIB, langit di atas wilayah Purwadadi mendadak gelap pekat. Tak lama berselang, hujan deras langsung mengguyur diikuti kilatan petir yang menyambar-nyambar. Namun, yang paling merusak adalah munculnya angin kencang yang berputar atau puting beliung yang langsung menghantam rumah-rumah warga.
Kecepatan angin yang luar biasa membuat material bangunan, khususnya genting, asbes, hingga baja ringan, beterbangan. Pepohonan di sekitar pemukiman juga banyak yang tumbang, menambah daftar kerusakan dan sempat memutus akses jalan di beberapa titik desa.
Dampak Terparah di Desa Bantardawa
Desa Bantardawa menjadi titik episentrum kerusakan paling parah dalam musibah kali ini. Data sementara yang berhasil dihimpun oleh perangkat desa setempat menunjukkan skala kerusakan yang cukup memprihatinkan. Sedikitnya 32 rumah warga di desa ini dinyatakan mengalami kerusakan, mulai dari kategori ringan hingga berat.
Tidak hanya rumah tinggal, terjangan angin puting beliung juga menyasar fasilitas penting lainnya. Kantor Desa Bantardawa, yang menjadi pusat pelayanan masyarakat, turut menjadi korban dengan kerusakan signifikan pada bagian atap. Selain itu, sebuah bangunan lumbung padi yang menjadi tumpuan ketahanan pangan warga desa juga dilaporkan porak-poranda dihantam badai tersebut.
Kepala Desa Bantardawa, Dena Suparman, menjelaskan bahwa saat ini prioritas utama adalah memastikan keselamatan warga. “Kondisi di lapangan masih sangat darurat. Hujan mulai turun sekitar pukul 14.42 WIB dengan intensitas yang sangat rapat. Masalah utamanya adalah angin kencang dan petir yang terjadi bersamaan. Rata-rata rumah yang terdampak mengalami kerusakan parah di bagian atap karena tersapu angin,” ujar Dena saat memantau lokasi kejadian.
Kisah Pilu Warga: Pulang ke Rumah yang Hancur
Duka mendalam dirasakan oleh warga yang rumahnya kini tak lagi utuh. Salah satunya adalah Sandon, seorang warga yang harus mendapati kenyataan pahit saat kembali ke rumah. Di saat bencana terjadi, Sandon sebenarnya sedang berada di luar kota, tepatnya dalam perjalanan pulang dari wilayah Cilacap menuju kediamannya di Purwadadi.
“Saat kejadian, posisi saya masih di jalan arah pulang dari Cilacap. Saya sama sekali tidak menyangka akan ada badai sedahsyat ini,” tutur Sandon dengan raut wajah sedih.
Begitu sampai di lingkungan rumahnya, ia terkejut melihat puing-puing bangunan sudah berserakan. Kondisi tempat tinggalnya rusak berat dan tidak mungkin bisa dihuni dalam waktu dekat. Perasaan terpukul dan bingung menyelimuti Sandon dan keluarganya, mengingat cuaca di wilayah Ciamis saat ini masih sangat fluktuatif dan sulit diprediksi.
Sebaran Kerusakan di Desa Sidarahayu dan Purwajaya
Dampak dari cuaca buruk ini rupanya tidak hanya terkonsentrasi di satu desa saja. Berdasarkan koordinasi lintas sektoral, pihak Kecamatan Purwadadi mencatat adanya sebaran kerusakan di desa-desa tetangga. Edi Priadi, Kasi Trantib Kecamatan Purwadadi, menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau laporan yang masuk dari setiap kepala dusun dan desa.
Hingga berita ini disusun, laporan kerusakan rumah warga terbagi di beberapa titik:
-
Desa Bantardawa: 32 unit bangunan (termasuk kantor desa dan lumbung padi).
-
Desa Sidarahayu: 15 rumah warga mengalami kerusakan atap.
-
Desa Purwajaya: 13 rumah warga terdampak angin kencang.
“Total sementara ada sekitar 60 bangunan yang terdampak di seluruh kecamatan. Kami masih terus melakukan sinkronisasi data karena kemungkinan jumlah ini bisa bertambah seiring masuknya laporan dari daerah-daerah yang akses komunikasinya sempat terganggu akibat hujan deras,” jelas Edi Priadi.
Upaya Penanganan Darurat dan Evakuasi
Mengingat kondisi cuaca yang masih hujan dan banyak rumah yang kehilangan atap, tinggal di dalam rumah menjadi sangat berisiko bagi warga. Air hujan yang masuk ke dalam bangunan dapat merusak sisa perabot dan membahayakan instalasi listrik.
Oleh karena itu, Pemerintah Desa Bantardawa mengambil langkah cepat dengan mengevakuasi warga yang rumahnya rusak berat ke tempat yang lebih aman. Beberapa warga mengungsi ke rumah kerabat terdekat yang kondisinya masih kokoh, sementara sebagian lainnya ditempatkan di posko darurat yang telah disiapkan.
“Kami terpaksa mengimbau warga untuk mengungsi sementara waktu. Atap rumah mereka hancur, dan dengan kondisi cuaca yang masih mendung serta potensi hujan susulan, sangat berbahaya jika mereka tetap bertahan di sana,” tambah Dena Suparman.
Gotong Royong dan Kehadiran BPBD Ciamis
Pasca badai mereda, suasana gotong royong langsung terlihat di lokasi bencana. Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis, bersama unsur relawan, TNI, Polri, dan warga setempat, bahu-membahu membersihkan puing-puing bangunan yang berserakan di jalanan maupun di dalam area rumah.
Pembersihan pohon-pohon yang tumbang menjadi prioritas agar akses logistik dan bantuan dapat masuk dengan lancar. Tim medis juga disiagakan untuk memeriksa kondisi kesehatan warga, terutama lansia dan anak-anak yang mungkin mengalami trauma akibat kejadian tersebut.
Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui instansi terkait diharapkan segera menyalurkan bantuan darurat berupa terpal, makanan siap saji, serta material bangunan untuk membantu warga memperbaiki tempat tinggal mereka. Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem serupa, mengingat wilayah Priangan Timur seringkali menjadi jalur perlintasan angin kencang saat masa transisi cuaca atau puncak musim hujan.
Kejadian di Purwadadi ini menjadi pengingat penting bagi kita semua akan besarnya kekuatan alam dan pentingnya mitigasi bencana di tingkat desa guna meminimalisir dampak kerugian material maupun korban jiwa di masa mendatang.











