BANJAR, Pewarta.id – Di antara gang-gang permukiman Cikabuyutan Timur, Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, sosok pria paruh baya mengayuh sepeda tuanya sudah menjadi pemandangan yang tak asing bagi warga sekitar. Dialah Mamat, yang akrab disapa Ujo, pedagang cilok keliling yang setia menyusuri kampung setiap pagi dan sore hari. Kamis (14/05/2026).
Cilok merupakan salah satu camilan khas Suku Sunda yang bentuknya menyerupai bakso, terbuat dari tepung tapioka, dan disajikan dengan berbagai pilihan pelengkap. Umumnya cilok disajikan dengan bumbu kacang yang kental dan gurih. Namun sebagian pedagang juga menawarkan variasi lain, seperti cilok berkuah atau dengan tambahan tahu goreng, sebagaimana yang dijajakan oleh Ujo.
Setiap pagi dan sore hari, Ujo mengayuh sepedanya menyusuri gang demi gang di kawasan Cikabuyutan Timur. Ia membawa dagangan cilok dan tahu yang tetap hangat berkat bara arang yang ia gunakan secara tradisional. Di tengah gempuran modernitas, Ujo masih setia menggunakan arang sebagai penghangat, bukan kompor gas, agar cita rasa dan kehangatan dagangannya tetap terjaga hingga ke tangan pembeli terakhir.
Kehadiran Ujo sudah begitu melekat dalam keseharian warga Cikabuyutan Timur. Tak jarang ibu-ibu rumah tangga yang sudah hafal jadwalnya langsung menunggu di depan gang begitu tahu waktu Ujo biasa melintas. Anak-anak pun tak ketinggalan, mereka menghampiri sepeda tua itu dengan antusias sambil menggenggam uang jajan.
Namun di balik kesederhanaan dan kesetiaannya berjualan, Ujo menyimpan kekhawatiran yang semakin berat belakangan ini. Sejak pemerintah menggulirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG), omzet dagangannya mengalami penurunan yang cukup terasa. Pembeli, terutama anak-anak usia sekolah yang dulu menjadi pelanggan setia, kini sudah mendapatkan makanan dari program tersebut sehingga tidak lagi jajan seperti biasa.
“Semenjak ada program makan bergizi gratis, dagangan saya tidak begitu ramai, pendapatan turun,” ujar Ujo dengan nada pelan namun jujur.
Ujo bukan satu-satunya pedagang kecil yang merasakan dampak ini. Di berbagai daerah, para penjaja jajanan tradisional mulai merasakan pergeseran kebiasaan konsumsi masyarakat, khususnya kalangan anak sekolah, yang kini mendapat asupan makan siang dari negara. Meskipun program MBG bertujuan mulia untuk meningkatkan gizi generasi muda, dampak ikutannya terhadap pedagang kecil di sekitar lingkungan sekolah dan permukiman menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian tersendiri.
Di tengah situasi tersebut, Ujo tidak menyerah. Ia tetap mengayuh sepedanya setiap hari, menjaga tradisi berjualan yang sudah lama ia jalani. Ia percaya bahwa rezeki ada di tangan Tuhan, dan tugasnya adalah terus berusaha.
Meski demikian, Ujo menaruh harapan besar kepada pemerintah agar lebih memperhatikan nasib pedagang kecil seperti dirinya. Baginya, program-program pemerintah yang besar semestinya tidak menutup ruang hidup bagi mereka yang berjualan dengan cara paling sederhana sekalipun.
“Semoga pemerintah bisa memberikan peluang atau memperhatikan pedagang kecil seperti saya,” harap Ujo.
Kisah Ujo adalah potret nyata dari jutaan pelaku ekonomi informal di Indonesia yang setiap harinya berjuang dalam diam. Mereka tidak meminta banyak — hanya ruang untuk tetap eksis dan diperhatikan di tengah berbagai kebijakan yang terus berubah. Sepeda tua yang terus menggelinding dari gang ke gang itu bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol ketangguhan seorang pedagang kecil yang tak pernah berhenti bergerak.











