15 Tahun Tanpa Renovasi, Atap SMPN 3 Banjarsari Ciamis Akhirnya Ambruk

Image of 15 tahun tanpa renovasi, atap smpn 3 banjarsari ciamis akhirnya ambruk
Pemandangan miris atap salah satu ruang kelas di SMPN 3 Banjarsari, Desa Cigayam, Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten Ciamis, yang ambruk total pada Minggu (29/3/2026). Material kayu yang sudah lapuk diduga tak kuat menahan beban setelah diguyur hujan deras. (Foto: Dok. Istimewa/Suherman)

CIAMIS, Pewarta.id – Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Akibat kondisi bangunan yang sudah terlampau uzur dan tidak tersentuh perbaikan selama belasan tahun, satu ruang kelas di SMPN 3 Banjarsari yang berlokasi di Desa Cigayam, Kecamatan Banjaranyar, dilaporkan ambruk total pada Minggu (29/03/2026). Insiden ini menjadi pengingat keras akan pentingnya pengawasan dan percepatan renovasi fasilitas pendidikan di daerah pelosok.

Peristiwa yang terjadi tepat di penghujung masa libur Lebaran ini diduga kuat dipicu oleh rapuhnya material kayu penyangga atap. Kondisi konstruksi yang sudah lapuk dimakan usia membuat bangunan tersebut tidak lagi mampu menahan beban, terutama setelah wilayah Kecamatan Banjaranyar diguyur hujan lebat dengan intensitas tinggi selama dua hari berturut-turut sebelum kejadian.

Kronologi Kejadian di Tengah Libur Lebaran

Humas SMPN 3 Banjarsari, Idad Ahmad Musadad, mengonfirmasi bahwa musibah tersebut berlangsung pada siang hari, sekitar pukul 11.00 WIB. Beruntung, saat kejadian, lingkungan sekolah dalam keadaan sepi karena masih dalam suasana libur panjang Idulfitri.

“Alhamdulillah, saat atap tersebut ambruk, kondisi ruangan memang sedang kosong. Mengingat hari itu adalah hari Minggu dan para siswa serta guru masih menikmati masa libur Lebaran, sehingga tidak ada aktivitas apa pun di area tersebut,” ujar Idad saat memberikan keterangan resmi kepada media, Senin (30/03/2026).

Meskipun suara dentuman atap yang runtuh sempat mengejutkan warga sekitar, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. Faktor cuaca ekstrem berupa hujan terus-menerus disinyalir menjadi “pukulan terakhir” bagi struktur bangunan yang memang sudah dalam kondisi kritis.

Baca Juga :  Petani Pamarican Rugi Puluhan Juta, Tiga Mesin Traktor Raib Dicuri Jelang Musim Tanam

Langkah Antisipatif Pihak Sekolah

Satu hal yang patut disyukuri adalah kewaspadaan pihak manajemen SMPN 3 Banjarsari. Jauh sebelum insiden ini terjadi, pihak sekolah ternyata sudah menyadari potensi bahaya dari keroposnya kayu-kayu penyangga di ruang kelas tersebut. Sebagai langkah preventif, ruangan itu telah dikosongkan dan tidak lagi digunakan untuk Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sejak beberapa waktu lalu.

Idad menjelaskan bahwa keselamatan siswa adalah prioritas utama mereka. Oleh karena itu, ketika tanda-tanda kerusakan struktur mulai terlihat jelas, pihak sekolah langsung memindahkan seluruh aset pendidikan seperti meja dan kursi siswa ke ruangan lain yang lebih aman.

“Sebenarnya bangunan ini sudah lama kami instruksikan untuk dikosongkan. Kami melihat sendiri kondisi atapnya sudah sangat mengkhawatirkan dan keropos di berbagai sisi. Jadi, saat akhirnya ambruk kemarin, kerusakan hanya terjadi pada konstruksi bangunan saja, sementara inventaris sekolah sudah kami selamatkan terlebih dahulu,” tambahnya.

Kerugian Materiil dan Penantian 15 Tahun

Meski tidak memakan korban jiwa, dampak materiil dari runtuhnya bangunan ini tetap signifikan. Berdasarkan hasil inventarisasi sementara yang dilakukan oleh pihak sekolah, kerugian ditaksir mencapai angka Rp 41.500.000. Angka tersebut mencakup kerusakan total pada bagian atap, plafon, hingga beberapa bagian dinding yang ikut terdampak reruntuhan kayu dan genteng.

Baca Juga :  Guru Harus Melek Etika Informasi, PGRI Jatinagara Gelar Sosialisasi Kode Etik dan Kompetesi Jurnalistik

Yang menjadi sorotan utama dalam insiden ini adalah fakta bahwa bangunan tersebut tercatat sudah 15 tahun tidak pernah mendapatkan bantuan renovasi atau perbaikan berat dari pemerintah daerah maupun pusat. Kurun waktu yang sangat lama ini dianggap tidak wajar bagi ketahanan sebuah bangunan sekolah yang setiap harinya digunakan untuk mencerdaskan generasi bangsa.

Pelaporan dan Harapan Penanganan Cepat

Menyikapi musibah ini, pihak SMPN 3 Banjarsari tidak tinggal diam. Mereka bergerak cepat dengan menyusun laporan resmi terkait kronologi dan estimasi kerugian untuk diteruskan ke instansi berwenang. Idad menegaskan bahwa laporan tersebut telah disampaikan secara tertulis kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis.

“Kami sudah melaporkan kejadian ini secara resmi ke Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis. Harapan kami tentu saja agar ada penanganan segera, baik itu melalui dana darurat maupun prioritas pembangunan di tahun anggaran ini,” pungkasnya.

Kini, pihak sekolah dan masyarakat setempat hanya bisa berharap agar pemerintah segera turun tangan. Jangan sampai rusaknya satu ruang kelas ini mengganggu distribusi ruang belajar saat para siswa kembali masuk sekolah setelah libur Lebaran nanti. Kejadian ini juga diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi kembali kelayakan bangunan sekolah lain di Ciamis guna mencegah insiden serupa terulang kembali.

Facebook Comments Box

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *