CIAMIS, Pewarta.id — Berawal dari kegemarannya membuat dokumentasi tentang kehidupan masyarakat desa, budaya lokal, dan berbagai cerita di tengah masyarakat, Ardiansyah Putra mendapat kesempatan untuk memperluas langkahnya ke dunia perfilman.
Pemuda asal Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, menjadi satu-satunya peserta yang mewakili Jawa Barat dalam Jambore Nasional Perfilman Desa 2026 yang digelar di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Keikutsertaan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ardiansyah. Dari sebuah desa di Kabupaten Ciamis, ia mendapat kesempatan membawa nama Jawa Barat dan bertemu dengan puluhan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Jambore Nasional Perfilman Desa 2026 berlangsung pada 26 hingga 29 Agustus 2026 di Watu Gambir Park, Desa Karang, Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Sekitar 60 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka datang dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam, namun memiliki ketertarikan yang sama terhadap cerita-cerita desa dan bagaimana kehidupan masyarakat di daerah dapat diangkat melalui karya film.
Bagi Ardiansyah, berada di tengah peserta dari berbagai penjuru Indonesia menjadi pengalaman yang sangat berharga. Terlebih, ia datang sebagai satu-satunya peserta yang membawa perwakilan Jawa Barat.
Kesempatan itu membuatnya merasa bangga karena dapat membawa cerita dan semangat dari Desa Ciomas serta Kabupaten Ciamis ke ruang yang lebih luas.
Namun, bagi Ardiansyah, keikutsertaan dalam jambore bukanlah sebuah akhir. Justru, kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mengenal dunia perfilman secara lebih mendalam.
Selama ini, Ardiansyah lebih banyak berkarya melalui dokumentasi dan video dokumenter yang mengangkat kehidupan pedesaan, budaya lokal, serta berbagai cerita masyarakat.
Dari pengalaman tersebut, ia mulai memahami bagaimana kehidupan yang ada di sekitar dapat direkam dan disampaikan melalui karya audio visual. Jambore kali ini kemudian menjadi ruang baginya untuk memperluas pengetahuan dari dokumentasi menuju proses perfilman.
Berbagai materi tentang teori dan proses pembuatan film menjadi bagian dari pembelajaran yang ia dapatkan selama kegiatan.
Termasuk bagaimana sebuah cerita yang berasal dari kehidupan desa dapat dikembangkan menjadi karya film yang memiliki pesan sekaligus mampu menjangkau penonton yang lebih luas.
“Bagi saya, ini menjadi ajang pembelajaran. Di acara jambore nasional ini saya banyak belajar tentang ilmu dan teori perfilman, apalagi materinya banyak membahas bagaimana mengangkat cerita desa menjadi sebuah karya film,” ujar Ardiansyah, Minggu (30/8/2026)
Menurutnya, desa memiliki begitu banyak cerita yang sebenarnya layak untuk diangkat.
Kehidupan masyarakat, tradisi, budaya, potensi desa hingga berbagai persoalan yang ada di tengah masyarakat dapat menjadi sumber cerita yang menarik.
Melalui film, cerita tersebut tidak hanya dapat menjadi dokumentasi, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan karakter dan potensi sebuah daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Pengalaman Ardiansyah semakin bertambah ketika ia bertemu dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Puluhan peserta dari Sabang sampai Merauke membawa cerita, pengalaman, dan sudut pandang masing-masing tentang desa mereka. Pertukaran pengalaman tersebut membuat Ardiansyah melihat bahwa setiap daerah memiliki kekayaan cerita yang berbeda.
Dari pertemuan itu pula, ia berkesempatan memperluas jaringan dengan pegiat dan komunitas film dari berbagai daerah.
Bagi Ardiansyah, jejaring menjadi bagian penting dalam proses belajar. Sebab, mengembangkan karya film tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga ruang untuk bertukar gagasan, berkolaborasi, dan terus belajar dari pengalaman orang lain.
Kebanggaan sebagai satu-satunya wakil Jawa Barat pun menjadi motivasi tersendiri bagi Ardiansyah untuk membawa pulang pengalaman tersebut ke Ciamis.
Ia berharap apa yang diperoleh selama mengikuti jambore tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi, tetapi dapat diwujudkan melalui karya yang mengangkat cerita-cerita dari Kabupaten Ciamis.
“Harapannya, semoga setelah mengikuti Jambore Nasional Perfilman Desa ini, saya bisa membuat karya film desa yang bisa mengangkat Kabupaten Ciamis khususnya, ke tingkat nasional,” katanya.
Dari Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Ardiansyah kini mulai memperluas langkah dari dunia dokumentasi menuju perfilman.
Bagi dirinya, perjalanan ini bukan sekadar tentang membuat film, tetapi juga tentang bagaimana cerita dari desa dapat memiliki ruang untuk dikenal lebih luas.
Ia berharap, suatu saat cerita-cerita dari desa di Kabupaten Ciamis dapat hadir di tengah masyarakat Indonesia dan menunjukkan bahwa desa juga memiliki banyak kisah yang layak untuk diceritakan.***











