Puluhan Jurnalis Ciamis Gelar Doa dan Dzikir untuk Lima Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

oez26 trisno

Image of Doa bersama (2)

CIAMIS, pewarta.id – Puluhan jurnalis dari berbagai organisasi profesi di Kabupaten Ciamis menggelar doa dan dzikir bersama sebagai bentuk solidaritas untuk lima jurnalis yang hilang di perairan Selat Sunda saat menjalankan tugas peliputan erupsi Anak Krakatau.

Aksi solidaritas tersebut melibatkan jurnalis yang tergabung dalam IJTI Galuh Raya, PWI, IPJI dan IWO. Suasana berlangsung khidmat ketika para jurnalis bersama-sama memanjatkan doa agar kelima rekan seprofesi tersebut mendapat keselamatan dan segera ditemukan.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pembacaan puisi oleh Jurnalis Kilas Radio PRSSNI Jabar, Didon Nurdani.

Suasana semakin mengharukan saat sekitar 100 lilin dinyalakan. Nyala lilin menjadi simbol solidaritas, doa dan harapan para jurnalis Ciamis untuk lima rekan seprofesi yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Salah seorang jurnalis senior, Adeng Bustomi, yang juga merupakan rekan seprofesi para korban, turut menyampaikan kesaksiannya. Ia mengaku masih berharap adanya keajaiban setelah proses pencarian berlangsung selama 10 hari.

“Walaupun hari ini hari terakhir pencarian, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Basarnas dan pemerintah yang sudah membantu melakukan pencarian secara optimal,” ujar Adeng.

Adeng mengaku memiliki hubungan komunikasi yang cukup dekat dengan sejumlah jurnalis yang hilang, khususnya dalam aktivitas jurnalistik dan fotografi.

Bahkan, sekitar tiga hari sebelum kejadian, ia masih berkomunikasi dengan salah satu rekannya, Bagus. Saat itu, komunikasi berlangsung melalui WhatsApp, termasuk ketika Adeng meminta bantuan terkait kamera yang mengalami masalah.

“Kita bercanda di WhatsApp, bahkan sering komunikasi. Ada teman saya yang lain juga menanyakan kabar tentang peristiwa kebakaran hutan di Garut,” tuturnya.

Kabar hilangnya lima jurnalis tersebut diakuinya menjadi pukulan bagi rekan-rekan seprofesi. Adeng mengatakan hingga kini dirinya masih sulit percaya bahwa lima sahabatnya tersebut dinyatakan hilang.

“Saya nggak nyangka. Jujur, lima sahabat saya itu adalah orang-orang yang terbaik menurut saya. Sampai sekarang saya masih tidak percaya bahwa mereka hilang,” katanya.

Ia berharap kelima jurnalis dan tiga kru kapal yang turut hilang dapat ditemukan dalam kondisi selamat dan kembali berkumpul bersama keluarga maupun rekan-rekannya.

“Harapan saya ada keajaiban untuk bisa kembali pulang dan berkumpul bersama kita,” ucapnya.

Di tengah keprihatinan tersebut, Adeng juga menyampaikan pesan penting kepada seluruh jurnalis yang masih menjalankan tugas di lapangan.

Menurutnya, profesionalisme dalam menjalankan tugas jurnalistik harus tetap berjalan, namun keselamatan diri tidak boleh diabaikan.

“Berita itu tidak seharga nyawa. Kita tetap melakukan peliputan yang baik demi keselamatan kita juga. Jangan sampai kita mengabaikan keselamatan diri,” tegasnya.

Ia mengingatkan seluruh jurnalis untuk tetap profesional dalam menjalankan tugas, tetapi menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama karena ada keluarga yang menunggu kepulangan mereka di rumah.

“Intinya, tetap profesional dalam peliputan, tetapi nomor satu adalah keselamatan diri kita, karena keluarga kita menunggu di rumah,” pungkas Adeng.

Doa bersama dan penyalaan 100 lilin tersebut menjadi pesan kuat dari insan pers Ciamis bahwa solidaritas sesama jurnalis tidak berhenti ketika rekan seprofesi menghadapi musibah. Di tengah berakhirnya proses pencarian, doa dan harapan agar kelima jurnalis serta tiga kru kapal dapat ditemukan tetap dipanjatkan.***

Also Read

Bagikan:

[addtoany]

Tinggalkan komentar