Kamis, 22 Oktober 2026
Ciamis

Harga Bahan Pokok dan Sayuran di Pasar Ciamis Melonjak, Pedagang Keluhkan Daya Beli Masyarakat Menurun

Image of Pasar manis ciamis

CIAMIS, pewarta.id – Sejumlah harga bahan pokok dan sayuran di Pasar Manis dan Pasar Subuh Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengalami kenaikan. Lonjakan harga tersebut dikeluhkan para pedagang karena berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat dan omzet penjualan yang semakin menurun.

Kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas sayuran, seperti cabai, buncis, wortel, bawang daun, sawi putih, labu siam, dan kacang panjang. Selain itu, harga sejumlah bahan pangan olahan, seperti tepung terigu, tepung tapioka, serta tepung aci sampeu, juga mengalami kenaikan.

Iin, seorang pedagang sayuran di Pasar Manis Ciamis yang telah berjualan selama sekitar 15 tahun, mengaku kondisi perdagangan saat ini menjadi salah satu masa paling sulit yang pernah dialaminya selama berjualan.

Menurutnya, kenaikan harga berbagai komoditas membuat pedagang berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, harga barang dari pemasok terus meningkat, sedangkan di sisi lain pedagang tidak leluasa menaikkan harga jual karena khawatir semakin memberatkan konsumen.

“Kalau ingin, harapannya harga kembali normal seperti dulu. Sekarang kondisinya terasa berat sekali. Kalau harga dinaikkan, pembeli juga susah,” ungkap Iin saat ditemui di Pasar Manis Ciamis.

Ia menyebutkan, harga buncis saat ini mencapai sekitar Rp20.000 per kilogram. Padahal, sebelumnya komoditas tersebut umumnya dijual pada kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram, bahkan bisa turun menjadi sekitar Rp12.000 ketika pasokan melimpah.

Kenaikan juga terjadi pada wortel lokal yang kini mencapai sekitar Rp16.000 per kilogram. Sementara wortel jenis Medan yang sebelumnya dijual sekitar Rp20.000 per kilogram, menurutnya, berpotensi mengalami kenaikan kembali.

Untuk komoditas cabai, harga cabai merah dilaporkan mencapai Rp90.000 per kilogram, sedangkan cabai hijau berada di kisaran Rp50.000 per kilogram. Harga tersebut meningkat dibandingkan kondisi sebelumnya, ketika cabai umumnya berada pada kisaran Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram.

Sementara itu, harga bawang daun juga mengalami kenaikan. Harga jualnya dapat mencapai sekitar Rp20.000 per kilogram, dengan harga pembelian dari pemasok yang turut meningkat.

Iin menuturkan, tingginya harga berbagai komoditas membuat pedagang harus mengurangi keuntungan agar barang tetap bisa terjual. Menurutnya, menaikkan harga jual bukan perkara mudah karena konsumen juga menghadapi keterbatasan kemampuan belanja.

Ia bahkan menilai kondisi perdagangan saat ini terasa lebih berat dibandingkan masa pandemi Covid-19. Ketika pandemi berlangsung, menurutnya, aktivitas jual beli masih relatif bisa bertahan meskipun terdapat pembatasan waktu operasional.

“Kalau sekarang terasa lebih parah. Dulu masih bisa bertahan, omzet masih ada. Sekarang kondisinya berat,” tuturnya.

Harga Sayuran Naik, Pasokan dari Petani Terbatas

Keluhan serupa disampaikan Wawan, pedagang di Blok A Pasar Manis Ciamis. Ia mengatakan, kenaikan harga sejumlah sayuran diduga berkaitan dengan terbatasnya pasokan dari petani di tengah musim kemarau.

Harga cabai keriting merah dan cabai domba, misalnya, kini berada pada kisaran Rp75.000 hingga Rp80.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat konsumen harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli kebutuhan dapur.

Menurut Wawan, kesulitan air untuk pertanian selama musim kemarau berdampak terhadap ketersediaan hasil panen. Bahkan, petani harus mengeluarkan upaya tambahan untuk mendapatkan air demi menjaga tanaman tetap tumbuh.

“Sekarang musim kemarau, air susah, jadi barang dari petani juga susah. Petani harus membawa air dari tempat yang jauh,” ujarnya.

Selain cabai, kenaikan juga terjadi pada bawang daun, sawi putih, dan labu siam. Harga bawang daun yang sebelumnya sekitar Rp12.000 per kilogram kini mencapai sekitar Rp20.000 per kilogram.

Sawi putih yang sebelumnya dijual sekitar Rp6.000 hingga Rp8.000 per kilogram kini mencapai Rp12.000 per kilogram. Adapun harga labu siam yang sebelumnya sekitar Rp5.000 per kilogram meningkat menjadi Rp12.000 hingga Rp14.000 per kilogram.

Sementara harga bawang merah relatif lebih stabil, yakni sekitar Rp40.000 per kilogram.

Wawan berharap pasokan sayuran kembali normal sehingga harga di tingkat pedagang dapat lebih terjangkau dan masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penjualan Tepung Ikut Terdampak

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada sayuran segar, tetapi juga merambah bahan baku pangan yang banyak digunakan masyarakat dan pelaku usaha kecil.

Holis, pedagang bahan pangan di Pasar Subuh Ciamis, mengatakan harga tepung aci sampeu yang sebelumnya Rp15.000 kini naik menjadi Rp16.500. Kenaikan tersebut berlangsung secara bertahap dalam beberapa hari terakhir.

Menurut Holis, perubahan harga langsung memengaruhi jumlah pembelian pelanggan. Konsumen yang sebelumnya membeli dalam jumlah lebih banyak kini mulai mengurangi pembelian untuk menyesuaikan pengeluaran.

“Yang biasanya beli berapa kilogram, sekarang jadi berkurang. Daya belinya menurun,” kata Holis.

Ia memperkirakan penjualan mengalami penurunan sekitar 20 persen sejak harga bahan pangan meningkat.

Selain tepung aci sampeu, harga tepung terigu dan gula juga dilaporkan mengalami kenaikan. Kondisi ini dinilai berpotensi menambah beban pelaku usaha kecil yang menggunakan bahan tersebut untuk memproduksi makanan, seperti gorengan dan jajanan.

Holis berharap harga bahan pangan dapat kembali normal agar konsumen mampu membeli sesuai kebutuhan, sementara pedagang bisa mempercepat perputaran barang dan memperoleh keuntungan yang lebih baik.

Pedagang Berharap Harga Kembali Stabil

Kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut menjadi tantangan bagi pedagang pasar tradisional di Ciamis. Mereka harus menghadapi kenaikan harga dari pemasok sekaligus menjaga agar harga jual tetap terjangkau bagi masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, para pedagang berharap stabilitas pasokan dan harga bahan pokok segera membaik. Mereka juga menginginkan aktivitas pasar kembali ramai sehingga barang dagangan dapat terjual lebih cepat.

Hingga kini, penyebab kenaikan harga setiap komoditas masih perlu ditelusuri lebih lanjut melalui data pasokan, harga di tingkat produsen, serta pemantauan dari instansi terkait.

Para pedagang berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memantau perkembangan harga serta memastikan ketersediaan bahan pangan di pasar. Dengan pasokan yang memadai dan harga yang lebih stabil, beban belanja masyarakat diharapkan tidak semakin berat, sementara pedagang kecil tetap dapat menjalankan usahanya.***

DST

Penulis di Pewarta ID.

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terus membaca

Berita Selanjutnya

agama

Hari Santri Nasional 2026, Polsek Cihaurbeuti Bersama Forkopimcam dan Ulama Teguhkan Komitmen Tolak Miras dan Narkoba

CIAMIS, pewarta.id – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tidak hanya menjadi momentum memperkuat nilai-nilai…

DST · 31 menit lalu
agama

Hari Santri 2026, Bupati Herdiat Dorong Santri Ciamis Jadi Pelopor Persatuan dan Penggerak Ekonomi

CIAMIS, pewarta.id – Santri di Kabupaten Ciamis didorong menjadi pelopor persatuan, penggerak ekonomi masyarakat, serta penjaga kelestarian lingkungan. Peran santri dinilai semakin…

DST · 35 menit lalu
Ciamis

Polsek Cihaurbeuti Bersama TNI, Pemerintah, dan Masyarakat Gotong Royong Normalisasi Saluran Air Cibaruyan

CIAMIS, pewarta.id – Jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, bersama unsur TNI, pemerintah kecamatan, kelompok tani, pelaku usaha, dan masyarakat melaksanakan…

DST · 19 jam lalu
Ciamis

Pererat Silaturahmi dengan Warga, Kapolsek Cihaurbeuti Ajak Masyarakat Aktifkan Siskamling dan Cegah Judi Online

CIAMIS, pewarta.id – Dalam upaya mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan sinergitas antara Polri dan masyarakat, Polsek Cihaurbeuti menggelar kegiatan kumpul bersama warga dan…

DST · 21 jam lalu
Bandung

Uji Efektivitas Siaran: KPI Pusat dan KPID Jabar Gandeng Akademisi Bedah Dampak Literasi Media

BANDUNG, pewarta.id  — Lembaran baru dicetak dalam tata kelola dan evaluasi edukasi publik penyiaran nasional. Untuk pertama kalinya sejak program literasi dicanangkan,…

DST · 21 jam lalu
Memuat berita selanjutnya…