CIAMIS, pewarta.id – Generasi muda dituntut tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memilah dan menyebarkan informasi secara bertanggung jawab di tengah derasnya arus informasi digital. Literasi digital dan pemahaman jurnalistik menjadi bekal penting untuk mencegah penyebaran berita bohong yang berpotensi memicu kesalahpahaman hingga perpecahan.
Semangat tersebut menjadi fokus pelatihan jurnalistik dan teknik pengambilan gambar yang diikuti 100 anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibra) Kabupaten Ciamis, di Aula Gedung PKK Ciamis, Kamis (29/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Ciamis bersama Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Galuh Raya itu merupakan bagian dari Road Show Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Kabupaten Ciamis 2026.
Pelatihan ini tidak hanya membekali peserta dengan keterampilan teknis jurnalistik, tetapi juga mendorong generasi muda agar lebih kritis dalam menghadapi disrupsi informasi, terutama di tengah perkembangan media sosial, kecerdasan buatan, dan teknologi komunikasi.
Kepala Bakesbangpol Kabupaten Ciamis, Dr. R. Yadi Tisyadi, S.E., M.Si., mengatakan perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam beradaptasi dan menyikapi perubahan secara bijak.
Menurut Yadi, kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan robotika, telah mengubah berbagai aspek kehidupan. Kondisi tersebut menuntut generasi muda memiliki wawasan kebangsaan sekaligus kemampuan memahami dampak perkembangan teknologi terhadap masyarakat.
“Kita di sini hadir untuk merefleksikan nilai-nilai wawasan kebangsaan di tengah gempuran Society 5.0. Teknologi semakin canggih, seperti kecerdasan buatan atau AI, robotik, bahkan kendaraan tanpa sopir. Kita harus mampu menghadapi perkembangan teknologi ini agar bisa beradaptasi,” ungkap Yadi.
Ia menegaskan, kemampuan menghadapi perkembangan teknologi harus disertai kecakapan dalam menyikapi informasi yang beredar di ruang digital. Tanpa sikap kritis, masyarakat berisiko terpengaruh informasi yang tidak akurat dan dapat memicu konflik sosial.
“Bagaimana kita bisa menyikapi informasi-informasi di era masyarakat yang cerdas, agar dapat menyelamatkan masyarakat Indonesia dari ancaman perpecahan,” tambahnya.
Karena itu, penguatan literasi digital dinilai menjadi bagian penting dari pendidikan wawasan kebangsaan. Generasi muda perlu memahami bahwa setiap informasi yang diproduksi dan disebarluaskan melalui media sosial memiliki konsekuensi terhadap kehidupan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, keterampilan jurnalistik diharapkan menjadi bekal bagi anggota Paskibra untuk membangun kebiasaan memeriksa kebenaran informasi, menyajikan fakta secara tepat, serta menghindari penyebaran konten yang menyesatkan.
Ketua IJTI Korda Galuh Raya, Yosep Trisna, menjelaskan bahwa kemampuan membuat dokumentasi visual harus diimbangi pemahaman terhadap prinsip-prinsip jurnalistik. Pengambilan gambar dan video bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga berkaitan dengan ketepatan informasi dan tanggung jawab dalam menyampaikan pesan kepada publik.
“Kami ingin peserta memahami bagaimana membuat visualisasi dan dokumentasi yang baik, bertanggung jawab, dan sesuai dengan kaidah jurnalistik, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengambilan dokumentasi,” jelas Yosep.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi dasar-dasar jurnalistik, teknik pengambilan gambar dan video, serta penulisan naskah. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori dan praktik secara langsung agar peserta memahami proses produksi informasi dari tahap pengambilan gambar hingga penyusunan narasi.
Melalui kegiatan ini, anggota Paskibra diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan dokumentasi yang menarik, tetapi juga memahami pentingnya akurasi, keberimbangan, dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
Penguatan literasi digital tersebut menjadi bagian dari upaya membangun generasi muda yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda diharapkan tidak sekadar menjadi konsumen konten, tetapi juga mampu berperan sebagai penyampai informasi yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab demi menjaga persatuan masyarakat.***






