Rabu, 28 Oktober 2026
budaya

Budaya Lokal Tasikmalaya Berpeluang Jadi Produk Kreatif Digital, dari Film hingga Animasi

Image of Tasikmalaya

TASIKMALAYA, pewarta.id – Kekayaan budaya lokal memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai ekonomi melalui pemanfaatan teknologi digital. Mulai dari film, lagu, animasi, hingga konten promosi wisata dan kuliner, budaya daerah dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk melahirkan karya kreatif yang mampu menjangkau pasar lebih luas.

Anggota Komisi X DPR RI, H. Ferdiansyah, menilai potensi budaya yang dimiliki Tasikmalaya dan berbagai daerah di Indonesia perlu diolah menjadi produk kreatif yang relevan dengan perkembangan teknologi. Upaya tersebut tidak hanya memperkuat pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang baru bagi industri kreatif dan promosi pariwisata daerah.

Hal itu disampaikan Ferdiansyah saat menghadiri Workshop Pengembangan Kreativitas Generasi Muda melalui Budaya Digital di Hotel Horison Tasikmalaya, Minggu (25/10/2026).

Menurut Ferdiansyah, masyarakat saat ini sudah terbiasa menggunakan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pemanfaatan teknologi untuk mengolah kekayaan budaya menjadi karya kreatif yang memiliki nilai tambah masih perlu terus dikembangkan.

“Ini menarik, tentang namanya budaya digital. Kita sebenarnya sudah berbudaya digital. Cuma masalahnya bukan budaya digital yang diharapkan, yaitu mendigitalisasi budaya,” kata Ferdiansyah.

Ia menjelaskan, berbagai tradisi, kesenian, cerita rakyat, kuliner, serta identitas khas daerah dapat menjadi bahan untuk menghasilkan beragam produk kreatif. Melalui pengolahan yang tepat, kekayaan budaya tersebut dapat dikemas dalam bentuk karya digital yang menarik sekaligus memiliki potensi untuk dipasarkan.

“Lewat ide-ide budaya yang ada di Tasikmalaya maupun yang ada di seluruh Indonesia untuk dijadikan bermacam-macam hilirisasinya. Bisa film, bisa lagu, bisa mungkin animasi, dan seterusnya,” ujarnya.

Ferdiansyah menekankan, pengembangan produk kreatif berbasis budaya membutuhkan keterlibatan generasi muda yang memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi sekaligus memahami nilai-nilai lokal.

Generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna media digital, tetapi juga perlu didorong menjadi pencipta karya yang mampu mengangkat identitas daerah. Karena itu, pemahaman mengenai proses produksi konten, termasuk penyusunan ide, penulisan naskah atau skrip, hingga pengemasan karya, menjadi bagian penting dalam pengembangan kreativitas.

Menurutnya, digitalisasi budaya harus diarahkan pada upaya menghasilkan karya yang dapat mendukung pelestarian dan perlindungan kebudayaan. Dengan demikian, nilai-nilai lokal tidak hanya tersimpan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dapat diperkenalkan melalui media yang dekat dengan kehidupan masyarakat modern.

“Jadi, yang harus ditekankan adalah kita sudah berbudaya digital, tapi belum melakukan digitalisasi budaya untuk konsumsi dalam rangka pelestarian, perlindungan budaya,” tuturnya.

Kuliner dan Wisata Lokal Bisa Menjadi Produk Kreatif Unggulan

Selain kesenian dan tradisi, potensi pariwisata serta kuliner khas Tasikmalaya juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi materi produk kreatif digital.

Menurut Ferdiansyah, promosi potensi daerah membutuhkan pengemasan cerita yang menarik agar mampu membangun ketertarikan masyarakat terhadap suatu destinasi maupun produk lokal.

Keunikan tempat wisata, sejarah suatu kawasan, tradisi masyarakat, hingga proses pembuatan makanan khas dapat diolah menjadi konten video, film dokumenter, animasi, maupun materi promosi digital lainnya.

Ia menilai, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan promosi wisata adalah kemampuan menyusun narasi yang kuat dan sesuai dengan karakter daerah yang ingin diperkenalkan.

“Kalau potensi dalam konteks yang arahnya, misalnya di antaranya wisata ya tinggal pengemasannya. Kelemahan kita, termasuk saya juga. Kita kurang melakukan kurasi terhadap narasi-narasi daerah tujuan wisata,” ungkapnya.

Ferdiansyah juga mengingatkan bahwa potensi wisata tidak hanya berkaitan dengan destinasi, tetapi mencakup berbagai kekayaan lokal, termasuk kuliner yang memiliki ciri khas tersendiri.

“Dalam tujuan wisata, jangan diartikan harus daerah, tapi juga kuliner,” katanya.

Karena itu, proses kurasi dan pengemasan konten menjadi langkah penting agar produk kreatif yang dihasilkan memiliki daya tarik dan mampu memperkenalkan keunggulan daerah secara lebih luas.

Melalui pengembangan produk kreatif berbasis budaya digital, generasi muda diharapkan dapat menggabungkan kreativitas, teknologi, dan kekayaan lokal untuk menghasilkan karya yang mendukung pelestarian budaya sekaligus memperkuat promosi potensi daerah.

“Kita harus membuat narasi-narasi tentu melalui kurasi, supaya juga melakukan promosi,” pungkasnya.

Workshop Pengembangan Kreativitas Generasi Muda melalui Budaya Digital tersebut turut dihadiri Direktur Pengembangan Budaya Digital Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Insan Abdirrohman.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong kreativitas generasi muda dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia.(ATO)

DST

Penulis di Pewarta ID.

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terus membaca

Berita Selanjutnya

Memuat berita selanjutnya…