TASIKMALAYA, pewarta.id — Dua nelayan asal Desa Sindangkerta, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, dilaporkan hilang setelah perahu yang mereka tumpangi dihantam ombak di perairan Pamoekan, Pantai Sindangkerta. Memasuki hari kedua pencarian pada Kamis (1/10/2026) sore, tim SAR gabungan belum menemukan keberadaan kedua korban.
Kedua nelayan yang masih dalam pencarian tersebut adalah Ending (56) dan Weli (30). Sementara itu, satu penumpang lain bernama Rudi (30)—anak dari Ending—berhasil menyelamatkan diri ke tepian saat insiden terjadi pada Selasa (29/9/2026) malam sekitar pukul 21.30 WIB.
Peristiwa nahas itu terjadi saat ketiga nelayan hendak mendarat di pesisir Pantai Pamoekan usai melaut. Sorot lampu perahu yang silau membuat juru mudi tidak menyadari keberadaan ombak pemecah pantai (amur), sehingga perahu dihantam gelombang tinggi yang melemparkan seluruh penumpang ke laut.
Hasil Pencarian Hari Kedua Masih Nihil
Meskipun keberadaan kedua korban belum ditemukan, tim SAR gabungan telah mengamankan sejumlah barang peninggalan korban di lokasi kejadian. Barang bukti yang ditemukan antara lain perahu dalam kondisi kosong, alas kaki, serta perlengkapan melaut yang tersisa di dalam perahu.
Komandan Tim SAR Tasikmalaya, Dedi Haryanto, mengonfirmasi bahwa operasi penyisiran darat maupun laut pada hari kedua masih belum membuahkan hasil.
“Operasi pencarian yang dilaksanakan pada hari kedua ini masih dinyatakan nihil. Tim di lapangan telah melakukan penyisiran, namun belum ditemukan tanda-tanda atau hasil yang diharapkan. Pencarian dihentikan sementara dan dilanjutkan esok pagi,” ujar Dedi Haryanto, Kamis (1/10/2026) petang.
Operasi SAR ini melibatkan belasan personel gabungan dari Pos SAR Tasikmalaya, Pos SAR Pangandaran, Polairud Cipatujah, BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Relawan PB, Rukun Nelayan, hingga SAR Nelayan.
Libatkan Tokoh Adat dan Imbauan SOP Keselamatan
Selain pergerakan tim SAR, pencarian juga melibatkan tokoh sepuh atau pawang secara spiritual atas inisiatif warga setempat. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Tasikmalaya, Dedi Mulyadi, menyatakan pihak keluarga korban saat ini sudah mulai tenang dan pasrah menghadapi musibah tersebut.
Di sisi lain, HNSI Kabupaten Tasikmalaya kembali mengingatkan para nelayan untuk selalu mengutamakan standar operasional prosedur (SOP) keselamatan, seperti kewajiban memakai jaket pelampung saat berlayar.
“Korban yang hilang, salah satunya sudah puluhan tahun melaut. Namun, karena kurang safety dan SOP seperti pelampung tidak dipakai, akhirnya berujung kecelakaan di laut,” kata Dedi Mulyadi.
Tim SAR gabungan dijadwalkan kembali memperluas area penyisiran pada Jumat (2/10/2026) pagi dengan memetakan titik-titik krusial di sepanjang perairan Cipatujah. (AST)


