Tanggulangi Kekeringan Tahunan, Eks Kalak BPBD Kota Tasikmalaya Dorong Mitigasi Berbasis Kearifan Lokal Kasundaan

DST

Image of Img 20261009 wa0032

KOTA TASIKMALAYA,pewarta.id  — Bencana kekeringan yang melanda berbagai wilayah setiap tahunnya tidak boleh lagi disikapi sebagai peristiwa yang mengejutkan, melainkan harus menjadi catatan strategis dalam perencanaan mitigasi bencana daerah.

 

Pemerhati lingkungan dan sosial kemasyarakatan Kota Tasikmalaya, H. Ucu Anwar Surahman, S.Pd., M.Pd., menegaskan pentingnya melakukan antisipasi dini kekurangan air bersih jauh sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Menurutnya, pendekatan edukasi berbasis kearifan lokal Kasundaan menawarkan filosofi tata ruang yang sangat efektif sebagai strategi mitigasi jangka panjang.

 

“Kekeringan yang berulang setiap tahun seharusnya menjadi pendorong bagi kita untuk bersiap lebih awal, terutama pada periode transisi musim. Kesadaran dan langkah antisipasi krisis air bersih harus dimulai sejak dini agar dampaknya bisa diminimalisasi secara maksimal,” ujar Ucu Anwar, Jumat (9/10/2026).

 

Filosofi Tata Ruang Kasundaan: Menjaga Keseimbangan Ekosistem Air

 

Mantan Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya periode 2018–2025 tersebut menjelaskan bahwa filosofi tradisional Sunda telah merumuskan panduan komprehensif mengenai pembagian ruang dan tata guna lahan berkelanjutan.

 

Prinsip tata kelola ekosistem air dalam kearifan Sunda merumuskan fungsi alam secara utuh dan berkesinambungan. Kawasan gunung dihutankan dengan pepohonan (dileuweungan) sebagai area resapan utama, sementara kawasan tebing atau gawir ditanami bambu untuk memperkuat struktur tanah dan mencegah erosi.

 

Di saat yang sama, kelestarian mata air (cinyusu) dirawat ketat, situ dan balong dipelihara sebagai penampung cadangan air, aliran sungai (walungan) dijaga kebersihannya, hingga kawasan pesisir (basisir) dilindungi demi menjaga keseimbangan ekosistem dari hulu ke hilir.

 

Ucu menilai pembagian tata ruang tersebut bukan sekadar tradisi budaya, melainkan bentuk instrumen mitigasi bencana hidrometeorologi yang sangat relevan dengan tantangan iklim saat ini.

 

“Pembagian ruang ini adalah panduan konkret. Jika gunung tetap dihutankan, tebing ditanami bambu, serta mata air dan situ dipelihara, kita tidak hanya menjamin ketersediaan air di musim kemarau, tetapi juga mencegah banjir di musim hujan,” terangnya.

 

Sinergi Kesiapsiagaan Modern dan Tradisi

 

Guna membangun ketahanan lingkungan jangka panjang, Ucu mendesak agar pemerintah daerah dan masyarakat mengintegrasikan prinsip-prinsip tata kelola lahan tradisional ke dalam program mitigasi bencana daerah secara formal.

 

Langkah konkret yang dinilai perlu segera direalisasikan meliputi perlindungan kawasan mata air, penanaman vegetasi penahan erosi di tebing, serta edukasi masif kepada masyarakat untuk merawat aliran sungai dan area resapan air.

 

Penyelesaian masalah krisis air bersih di masa depan memerlukan paduan antara kesiapsiagaan sistem modern dan kesadaran merawat alam sesuai fungsinya—mulai dari puncak gunung hingga kawasan pesisir. (AKA)

Also Read

Bagikan:

[addtoany]

DST

Tinggalkan komentar