Solo, pewarta.id – Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 kembali menjadi ruang kreatif bagi musisi untuk menghadirkan inovasi dalam musik tradisi. Tahun ini, Duo Wening Jepank tampil berbeda dengan menjadikan keroncong sebagai medium city branding Kota Solo.

Duo yang digawangi Wening dan Jepank Van Samben itu tidak sekadar memainkan keroncong klasik, melainkan menyusupkan nuansa modern seperti blues, rock and roll, rap, hingga sequencer. Konsep ini dirancang agar musik keroncong lebih akrab dengan generasi muda sekaligus memperkenalkan potensi budaya, kuliner, dan pariwisata Solo ke khalayak nasional maupun internasional.
“Semua lagu yang kami ciptakan bercerita tentang Solo. Kami ingin musik menjadi jembatan agar kota ini semakin dikenal luas,” ujar Wening.

Dalam penampilannya di Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta, Minggu (19/7), mereka membawakan karya orisinal seperti Jiwanya Jawa dan Daharan Solo, serta menghadirkan aransemen baru lagu legendaris Berseri karya Ki Anom Suroto. Lagu berusia setengah abad itu dikemas ulang dengan sentuhan rap dan sequencer tanpa menghilangkan ruh keroncong aslinya.
Penampilan Duo Wening Jepank semakin istimewa dengan kehadiran maestro biola Hendri Lamiri sebagai musisi tamu. Kehadiran Lamiri memperkuat warna baru yang ditawarkan, menjadikan keroncong bukan sekadar nostalgia, melainkan musik yang relevan dengan zaman.
Melalui konsep ini, Duo Wening Jepank berharap dapat memperkuat citra Solo sebagai kota budaya yang terus berinovasi, menjaga tradisi sekaligus membuka ruang bagi kreativitas modern.[gpwk]











