Harsiarda Jabar 2026: Dari Studio Kecil Ciamis, Aji Purnama Buktikan Penyiaran Tak Mengenal Batas

oez26 trisno

Image of Penyiar radio actari 96.6 fm

CIAMIS, pewarta.id — Di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya kabar bohong atau hoaks, radio masih memiliki ruang penting untuk menjadi sumber informasi sekaligus teman bagi masyarakat. Dari sebuah studio radio kecil di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, seorang penyiar bernama Aji Purnama terus menjaga peran tersebut selama satu dekade.

Aji merupakan penyiar Radio Actari 96,6 FM Ciamis. Ia telah bergabung dengan radio tersebut sejak 2016 dan hingga kini masih aktif menyapa pendengar melalui siaran radio.

Perjalanan Aji di dunia penyiaran sebenarnya dimulai jauh sebelum bergabung dengan Radio Actari. Ia mengawali kiprahnya melalui radio komunitas, sebelum kemudian mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sebagai penyiar di radio profesional.

“Kalau sejak kapan, sudah dari lama saya berkecimpung di bidang penyiaran ataupun di radio. Awalnya saya menjadi penyiar dari radio komunitas, kemudian ada teman yang mengajak ke radio. Setelah itu saya pindah ke sini, ke Radio Actari, dari tahun 2016 sampai sekarang,” tutur Aji.

Sepuluh tahun berada di balik mikrofon bukan perjalanan yang selalu mudah. Pada awal menekuni profesi tersebut, Aji mengaku harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi perangkat siaran yang semakin canggih.

Keterbatasan pengetahuan mengenai perangkat siar menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapinya. Belum lagi jarak tempat tinggal dengan studio radio yang cukup jauh.

Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti.

“Saya terus pelajari, terus saya tekuni. Awal-awal saya tidak mengetahui perangkat siar zaman sekarang yang canggih-canggih. Tapi setelah terus saya tekuni dan pelajari, akhirnya sampai sekarang bisa,” katanya.

Penyiaran yang Membuka Ruang Kesetaraan

Di balik suara yang setiap hari terdengar melalui frekuensi radio, terdapat kisah perjuangan Aji sebagai penyandang disabilitas.

Keterbatasan fisik tidak membuatnya menyerah untuk tetap produktif dan berkarya. Justru dunia penyiaran menjadi salah satu ruang yang memberikan kesempatan baginya untuk terus bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Menurut Aji, pilihannya menekuni dunia penyiaran juga berkaitan dengan kondisi dirinya sebagai penyandang disabilitas.

“Kenapa saya ingin menekuni menjadi seorang penyiar? Yang pertama saya seorang disabilitas. Kalau seorang disabilitas, mungkin tidak bisa bekerja yang berat-berat. Sedangkan hidup memerlukan biaya untuk anak dan keluarga. Akhirnya saya pelajari menjadi seorang penyiar,” ujarnya.

Kesempatan itu kemudian datang dari Radio Actari Ciamis yang memberinya ruang untuk bekerja dan mengembangkan kemampuan.

Aji mengaku bersyukur karena mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari dunia penyiaran.

“Alhamdulillah, di Actari Ciamis, salah satu radio yang bisa menerima saya sebagai penyiar. Saya bersyukur dan berterima kasih kepada Actari yang telah menerima saya sebagai penyiar,” ucapnya.

Bagi Aji, radio bukan sekadar tempat bekerja. Dari balik mikrofon, ia membangun hubungan dengan para pendengar yang tersebar tidak hanya di Ciamis, tetapi juga sejumlah daerah di Jawa Barat.

Ia menyebut respons pendengar selama menjadi penyiar cukup besar. Bahkan, pendengarnya berasal dari berbagai daerah seperti Garut, Tasikmalaya hingga Pangandaran.

Tak Hanya Jago di Balik Mikrofon

Kemampuan berbicara Aji ternyata tidak hanya digunakan ketika berada di studio radio.

Di luar aktivitas siaran, ia juga kerap mendapat undangan untuk menjadi pembawa acara atau MC dalam berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari hajatan, pesta pernikahan hingga khitanan.

Ia juga sesekali ikut bersama grup musik milik rekan-rekannya dan dipercaya menjadi MC dalam berbagai acara.

Pengalaman tersebut membuat kemampuan public speaking Aji semakin terasah.

“Kalau misalkan saya di depan orang banyak, sudah biasa. Tidak aneh lagi. Saya memang percaya diri,” katanya.

Kemampuan berkomunikasi tersebut pula yang membuat Aji memiliki kedekatan dengan para pendengarnya.

Salah seorang pendengar Radio Actari, Ebah, menyebut Aji sebagai sosok penyiar yang memiliki banyak kemampuan.

Menurut Ebah, Aji mampu membangun kedekatan dengan pendengar melalui karakter siarannya yang ramah, sopan dan penuh humor.

“Waaji itu seorang penyiar yang multitalenta, serba bisa dan bisa merangkul pendengar. Ramah, sopan, periang dan kocak,” ujar Ebah.

Ia mengatakan, candaan Aji saat mengudara juga menjadi salah satu hal yang membuat para pendengar merasa terhibur.

“Bikin nonoman bisa tertawa lepas dengan candaan-candaannya,” katanya.

Harsiarda 2026 dan Masa Depan Radio Daerah

Kisah Aji menjadi bagian kecil dari wajah penyiaran daerah yang terus bertahan di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.

Momentum tersebut semakin relevan dengan pelaksanaan Hari Penyiaran Daerah (Harsiarda) Jawa Barat 2026 yang akan digelar di Plaza Mekarsari, Kabupaten Bandung Barat.

Harsiarda Jabar 2026 mengusung gerakan “Kembali Nonton TV dan Dengar Radio”. Gerakan tersebut diarahkan untuk kembali mendorong masyarakat memanfaatkan media penyiaran sebagai sumber informasi publik di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya berita bohong atau hoaks.

Selain kampanye penyiaran, Harsiarda Jabar 2026 juga menjadi ruang apresiasi bagi lembaga dan insan penyiaran melalui penganugerahan Piala Ketua KPID kepada mereka yang dinilai berprestasi di bidang penyiaran Jawa Barat.

Rangkaian kegiatan Harsiarda sebelumnya juga telah diisi dengan berbagai agenda, mulai dari diskusi publik, kolaborasi bersama Kwarda Jawa Barat, hingga program Nyemah Atikan Penyiaran yang membahas perkembangan tren konten di kalangan Generasi Z.

Bagi Aji, momentum Harsiarda bukan hanya soal perayaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mendorong dunia penyiaran agar terus berkembang dan memberikan informasi yang semakin berkualitas kepada masyarakat.

Ia berharap penyiaran di Jawa Barat ke depan semakin baik dan perhatian terhadap para insan penyiaran, termasuk penyandang disabilitas, semakin besar.

“Harapan saya di Harsiarda, semoga penyiaran dalam menyampaikan informasi lebih baik lagi dan semakin meningkat. Juga lebih memperhatikan para penyiar dan insan penyiaran lainnya, khususnya saya sebagai seorang disabilitas,” tutur Aji.

Perjalanan Aji selama satu dekade di balik mikrofon menjadi pengingat bahwa penyiaran daerah bukan hanya tentang perangkat canggih, studio besar atau popularitas.

Ada suara-suara dari daerah yang setiap hari hadir menemani masyarakat. Ada penyiar yang bertahan karena kecintaan pada profesinya. Dan ada pula mereka yang menemukan kesempatan untuk berkarya justru melalui dunia penyiaran.

Dari studio sederhana di Ciamis, Aji Purnama membuktikan bahwa sebuah suara dapat menembus batas. Menjadi teman bagi pendengar, menyampaikan informasi, menghadirkan hiburan, sekaligus membuka ruang kesetaraan bagi penyandang disabilitas untuk tetap berkarya dan berdaya.(ast)

Facebook Comments Box

Also Read

Bagikan:

[addtoany]

Tinggalkan komentar