Hari Anak Nasional 2026: “Ayah Wajib Hadir”, Jawa Barat Soroti 29,5% Anak Tumbuh Tanpa Peran Ayah

Image of Hari keluarga nasional

KOTA BANDUNG, pewarta.id  – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-33 tahun 2026 di Jawa Barat menjadi momentum penting untuk menguatkan kembali peran keluarga, khususnya sosok ayah dalam tumbuh kembang anak. Mengusung tema “Ayah Wajib Hadir”, berbagai pihak menekankan bahwa kehadiran ayah tidak cukup hanya secara fisik, melainkan harus aktif secara emosional dan pendidikan.

Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si, mengungkapkan bahwa peringatan Hari Anak tahun ini dilakukan secara sederhana di berbagai daerah, namun membawa pesan yang sangat kuat terkait peran ayah dalam keluarga.

“Tema ‘Ayah Wajib Hadir’ ini selaras dengan sejumlah gerakan yang sedang kita dorong, seperti ‘Ayah Mengambil Raport’ dan ‘Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah’. Kita ingin ayah benar-benar hadir dalam kehidupan anak, bukan hanya sekadar memberikan nafkah,” ujar Dr. Dadi Ahmad Roswandi, Senin(29/6/2026).

Menurutnya, peran ayah tidak boleh terbatas pada fungsi ekonomi semata. Ayah harus terlibat aktif dalam proses tumbuh kembang anak, termasuk dalam aspek pendidikan, emosional, dan pembentukan karakter.

Lebih lanjut, Dadi memaparkan hasil Pendataan Keluarga yang menunjukkan bahwa sekitar 29,5 persen anak di Jawa Barat mengalami kondisi fatherless, yaitu tumbuh tanpa kehadiran atau peran aktif seorang ayah.

“Ini angka yang cukup memprihatinkan. Anak-anak yang kehilangan figur ayah berpotensi mengalami berbagai tantangan dalam perkembangan psikologis dan sosialnya,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala DP3AKB Jawa Barat, Siska Gerfianti, Sp. DLP., M.H.Kes, menyampaikan bahwa tema “Ayah Wajib Hadir” mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Baca Juga :  Satpol PP Jabar Menggelar Forum Perangkat Daerah Satpol PP Se Jabar tahun 2021

Ia mengungkapkan bahwa Gubernur Jawa Barat telah mengeluarkan surat edaran terkait gerakan “Ayah Mengambil Raport”, bahkan langsung memberikan contoh nyata dengan mengambil raport anaknya sendiri sebagai bentuk keteladanan.

“Ini bukan sekadar seremoni. Kita ingin ayah hadir dalam setiap fase kehidupan anak, tidak hanya pada momen tertentu saja,” ujar Siska.

Ia juga mengingatkan bahwa fenomena fatherless bukan hanya terjadi di Jawa Barat, tetapi juga secara nasional dengan angka mencapai sekitar 29 persen. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh ayah di Indonesia untuk mulai mengambil peran lebih aktif dalam keluarga.

“Kami mengimbau kepada seluruh ayah—bapak, papa, papi—untuk benar-benar hadir dalam kehidupan anak-anaknya. Jangan serahkan sepenuhnya tanggung jawab pengasuhan kepada ibu,” tegasnya.

Menurut Siska, sosok ayah memiliki peran yang sangat penting sebagai role model bagi anak, baik laki-laki maupun perempuan.

Untuk anak laki-laki, ayah menjadi contoh dalam membentuk karakter maskulinitas, tanggung jawab, kedisiplinan, serta bagaimana menjadi seorang pemimpin yang penuh kasih sayang.

Sementara bagi anak perempuan, ayah merupakan sosok cinta pertama yang akan membentuk persepsi mereka terhadap laki-laki di masa depan.

“Ketika anak perempuan mendapatkan kasih sayang yang cukup dari ayahnya, maka ia tidak akan mencari perhatian dari sosok laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Ia akan memiliki standar yang jelas dalam memilih pasangan hidup,” jelasnya.

Baca Juga :  PKB Ciamis Konsolidasi untuk Pemenangan Pasangan "Jabar Bahagia" di Pilgub dan Pilkada 2024

Hal senada disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, yang menilai bahwa tema tahun ini sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini.

Dalam sambutan Menteri Kependudukan dan Keluarga Berencana yang dibacakannya, ditekankan bahwa kehadiran ayah tidak boleh hanya sebatas fisik tanpa komunikasi.

“Ayah harus hadir secara utuh, berkomunikasi, membangun kedekatan, dan terlibat dalam pembentukan karakter anak,” ujar Erwan.

Ia juga menyoroti fenomena degradasi moral di kalangan generasi muda yang menjadi perhatian serius semua pihak. Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter anak.

“Masa depan anak-anak kita ditentukan dari keluarga. Bagaimana mereka melihat keseharian orang tuanya, bagaimana nilai-nilai ditanamkan, itu semua akan membentuk karakter mereka,” katanya.

Erwan menegaskan pentingnya memperkuat nilai keimanan, ketakwaan, serta akhlak dan moral anak sejak dini melalui peran aktif kedua orang tua, khususnya ayah.

“Kita harus mampu membentengi anak-anak dari pengaruh negatif di luar. Dan itu dimulai dari rumah, dari keluarga,” tambahnya.

Melalui momentum Hari Anak Nasional 2026 ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama seluruh pemangku kepentingan berharap gerakan “Ayah Wajib Hadir” dapat menjadi gerakan kolektif yang berkelanjutan.

Tidak hanya sebagai kampanye sesaat, tetapi menjadi budaya baru dalam kehidupan keluarga Indonesia demi menciptakan generasi yang lebih kuat, berkarakter, dan berdaya saing di masa depan.

“Yuk, kita gelorakan bersama—Ayah Wajib Hadir!”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *