KOTA TASIKMALAYA, pewarta.id — Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya, masih tergolong rendah. Kondisi ini menjadi perhatian serius dari sektor kesehatan, khususnya Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Cigeureung, yang terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat.
Tenaga Promosi Kesehatan Puskesmas Cigeureung, Heni Herawati, SKM, mengungkapkan bahwa masih banyak warga yang belum menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, PHBS merupakan kunci utama dalam mencegah berbagai penyakit, terutama yang berkaitan dengan lingkungan dan kebersihan.
“PHBS itu mencakup berbagai hal sederhana namun penting, seperti rutin melakukan aktivitas fisik, mencuci tangan dengan sabun, tidak merokok, mengonsumsi buah dan sayur, serta melakukan pemeriksaan kesehatan seperti gula darah dan tekanan darah secara berkala,” ujar Heni Herawati, Senin (29/06/2026).
Namun demikian, di lapangan masih ditemukan berbagai kebiasaan yang bertentangan dengan prinsip PHBS. Salah satunya adalah kebiasaan merokok di lingkungan kerja maupun di dalam rumah, serta rendahnya kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
“Masih banyak masyarakat yang belum menerapkan pola hidup sehat, termasuk merokok di lingkungan kerja dan kurang menjaga kebersihan lingkungan,” tambahnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya risiko penyakit di masyarakat. Salah satu yang cukup sering terjadi adalah penyakit diare, yang dipicu oleh buruknya kualitas air serta sanitasi lingkungan yang belum memadai.
Heni menjelaskan, persoalan sanitasi masih menjadi tantangan di Kelurahan Sukamanah. Bahkan, masih ditemukan kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) yang berpotensi mencemari sumber air bersih warga.
“Ini sangat berbahaya, karena bisa menyebabkan pencemaran air dan memicu penyebaran penyakit. Apalagi di musim kemarau, ketika debit air menurun, kualitas air bisa semakin buruk,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi bakteri berbahaya seperti Escherichia coli (E. coli) yang kerap menjadi penyebab utama gangguan pencernaan, termasuk diare.
Selain penyakit berbasis lingkungan, masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai potensi penyebaran penyakit menular seperti chikungunya. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk dan dapat berkembang di lingkungan yang banyak terdapat genangan air.
Menurut Heni, wilayah Sukamanah sempat menjadi lokasi penyuluhan terkait pencegahan chikungunya, mengingat adanya potensi penyebaran di daerah tersebut.
“Pencegahan bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan, menghindari genangan air, serta memanfaatkan tanaman pengusir nyamuk seperti sereh. Ini langkah sederhana tapi efektif,” ungkapnya.
Sebagai upaya peningkatan kesadaran masyarakat, pihak Puskesmas Cigeureung terus melakukan berbagai kegiatan edukasi dan sosialisasi. Penyuluhan dilakukan secara langsung ke masyarakat, baik di lingkungan permukiman, fasilitas umum, hingga tempat ibadah seperti masjid.
Pendekatan ini diharapkan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, sehingga pesan-pesan kesehatan dapat diterima dengan baik dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya itu, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, serta masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang ada. Mulai dari peningkatan kesadaran PHBS, penanganan masalah sanitasi, hingga pengendalian penyakit berbasis lingkungan.
Dengan sinergi yang kuat, diharapkan kualitas kesehatan masyarakat di Kelurahan Sukamanah dapat terus meningkat. Pemerintah pun mendorong agar warga tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dalam menjaga kesehatan lingkungan.
“Perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Kalau masyarakat sadar dan mau bergerak bersama, maka berbagai permasalahan kesehatan bisa ditekan,” pungkas Heni.
Melalui upaya berkelanjutan ini, diharapkan Kelurahan Sukamanah dapat menjadi wilayah yang lebih sehat, bersih, dan terbebas dari berbagai penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan penerapan PHBS secara konsisten.***











