CIAMIS, pewarta.id – Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor kuliner terus dilakukan di Kabupaten Ciamis. Sebanyak 18 juru masak yang tergabung dalam dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengikuti kegiatan pelatihan dan sertifikasi profesi yang digelar di Ruang Praktik Tata Boga SMKN 1 Ciamis, Sabtu (1/11/2025).
Program peningkatan kompetensi ini merupakan kolaborasi antara Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Galuh Raya, LPK Gemilang Cita Nusantara, LSP Mutu Wisata, dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, dengan agenda pelatihan teori dan praktik di hari pertama, serta pelaksanaan uji kompetensi pada hari kedua, Minggu (2/11/2025).
Menurut Husnul Chotimah, S.Pd, Pimpinan LPK Gemilang Cita Nusantara, kegiatan ini merupakan langkah konkret dalam mencetak tenaga kuliner profesional yang berkompeten dan bersertifikat.
Ia menjelaskan bahwa kemampuan memasak yang baik saja belum cukup. Di era modern, pengakuan keahlian melalui sertifikasi menjadi hal penting agar tenaga kerja diakui secara resmi dan siap bersaing di dunia kerja.
“Pelatihan ini kami rancang agar peserta memahami standar industri kuliner, mulai dari kebersihan dapur, keamanan pangan, hingga pengolahan bahan makanan yang sesuai prosedur,” tutur Husnul.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapat bimbingan langsung dari para instruktur profesional. Mereka diajarkan penerapan SOP dapur, pengendalian suhu penyimpanan bahan, serta praktik menjaga higienitas selama proses memasak.
Salah satu instruktur, Chef Neni, A.Md.Par., S.E., M.M, menegaskan pentingnya pemahaman karakteristik bahan makanan. Setiap bahan, katanya, membutuhkan perlakuan berbeda agar kualitas dan nilai gizi tidak berkurang.
“Ayam harus dimasak hingga matang sempurna, sedangkan sayur cukup dimasak setengah matang. Bahan beku disimpan di suhu -10 sampai -21 derajat, sementara bahan segar di suhu 0 hingga 5 derajat,” jelasnya.
Selain praktik memasak, para peserta juga mempelajari cara memantau suhu chiller dan freezer secara rutin. Hal ini penting untuk memastikan keamanan pangan sesuai standar industri kuliner nasional.
Chef Neni berharap pelatihan ini dapat menumbuhkan kesadaran peserta tentang pentingnya profesionalisme dalam bekerja di dapur MBG.
“Sekarang fasilitas dan peralatan dapur sudah modern dan mengikuti standar pemerintah. Jadi SDM-nya pun harus kompeten dan tersertifikasi,” ujarnya menambahkan.
Ketua IJTI Galuh Raya, Yosep Trisna, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk dukungan nyata IJTI terhadap program peningkatan kualitas SDM di daerah.
Menurutnya, pelatihan ini bukan hanya ajang peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga bagian dari peran jurnalis dalam mendorong kemajuan sektor ekonomi masyarakat melalui peningkatan keterampilan kerja.
“Kami ingin insan media ikut berperan dalam program pemerintah. Salah satunya dengan memfasilitasi kegiatan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat seperti pelatihan ini,” ujar Yosep.
Yosep menambahkan, tahap pertama kegiatan ini hanya diikuti 18 peserta sebagai percontohan. Namun, ke depan IJTI Galuh Raya berencana memperluas jangkauan program ke lebih banyak dapur MBG di wilayah Priangan Timur.
“Kami harap para peserta yang lulus bisa menjadi contoh bagi juru masak lain agar semangat untuk meningkatkan kompetensi dan meraih sertifikasi resmi dari BNSP,” tambahnya.
Sementara itu, Wiji Budi Darto, Kepala LSP Mutu Wisata, menilai kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan tenaga kerja di sektor kuliner saat ini. Ia mengatakan, sertifikasi profesi menjadi bentuk pengakuan terhadap kemampuan seseorang setelah menjalani pelatihan dan bekerja secara profesional.
“Sertifikasi ini tidak hanya sekadar formalitas, tapi juga bukti bahwa seseorang benar-benar memiliki kompetensi di bidangnya,” ungkap Wiji.
Ia juga mengapresiasi kerja sama antara LPK Gemilang Cita Nusantara, IJTI Galuh Raya, dan para pengelola dapur MBG yang berkomitmen untuk meningkatkan mutu layanan makanan bergizi bagi masyarakat.
“Kegiatan seperti ini harus terus dilanjutkan. Selain meningkatkan kualitas SDM, juga membuka peluang bagi tenaga kuliner untuk berkembang di industri yang lebih luas,” ucapnya.
Wiji menambahkan, berdasarkan hasil observasi tim asesor, sebagian besar peserta menunjukkan kemampuan yang baik dalam hal pengolahan bahan, penerapan K3, dan penyajian hidangan.
“Kami melihat antusiasme yang tinggi. Peserta memahami pentingnya standar kerja yang aman dan higienis. Ini modal besar untuk peningkatan mutu layanan MBG di masa depan,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat diadakan secara rutin dan berkelanjutan agar tenaga kuliner di daerah terus berkembang dan mampu bersaing di tingkat nasional.
“Ciamis memiliki potensi kuliner yang luar biasa. Dengan SDM yang kompeten dan bersertifikat, daerah ini bisa menjadi salah satu pusat kuliner unggulan di Jawa Barat,” pungkasnya.










