Krisis Air Bersih Meluas, 7.973 Warga Pangandaran Bergantung pada Pasokan Tangki (Air Bersih)

Image of Air bersih

PANGANDARAN, pewarta.id – Musim kemarau mulai menekan kehidupan ribuan warga Kabupaten Pangandaran. Krisis air bersih kini meluas ke sejumlah wilayah, membuat kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari harus dipenuhi melalui distribusi menggunakan armada tangki.

Sedikitnya 7.973 warga atau 2.681 Kepala Keluarga (KK) di 22 desa dan sembilan kecamatan terdampak kekeringan. Kondisi tersebut mendorong pemerintah bersama petugas kebencanaan mempercepat penyaluran air bersih ke kantong-kantong wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan sumber air.

Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Pangandaran mencatat, hingga 27 Agustus 2026, sebanyak 370.000 liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat terdampak.

Petugas Tagana Pangandaran, Wawan Kuswandi, mengatakan distribusi air mulai dilakukan sejak 12 Agustus 2026 setelah armada tangki bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) tiba di Pangandaran.

Tangki dikirim tanggal 10 dari kementerian dan tiba di Pangandaran tanggal 11 Agustus. Kami langsung melakukan persiapan, dan mulai 12 Agustus melakukan suplai air bersih ke masyarakat yang membutuhkan hingga sekarang,” ujar Wawan, Jumat (28/8/2026).

Armada baru tersebut menjadi penopang penting dalam penanganan kekeringan. Sebelumnya, Tagana Pangandaran mengandalkan kendaraan tangki lama yang kondisinya sudah tidak layak digunakan karena bagian sasis mengalami keropos.

Respons cepat Kemensos terhadap kebutuhan armada tersebut membuat distribusi air bersih tetap dapat dilakukan di tengah meningkatnya permintaan dari masyarakat.

Baca Juga :  Polisi Bongkar Praktik Live Streaming Pornografi oleh Pasutri di Pangandaran, Ini Kronologinya

Cimerak Jadi Wilayah dengan Distribusi Terbesar

Dari total 370.000 liter air yang telah disalurkan, Kecamatan Cimerak menjadi wilayah dengan distribusi terbesar, yakni mencapai 155.000 liter.

Pasokan tersebut tersebar di sejumlah desa. Desa Sukajaya menerima 30.000 liter, Kertaharja 25.000 liter, sementara Desa Limusgede dan Cimerak masing-masing mendapatkan 20.000 liter.

Adapun Desa Batumalang, Kertamukti, Mekarsari dan Sindangsari masing-masing memperoleh 15.000 liter.

Kecamatan Cigugur menjadi wilayah dengan distribusi terbesar kedua dengan total 90.000 liter. Desa Cimindi menerima 40.000 liter, sedangkan Desa Pagarbumi dan Bunisari masing-masing 20.000 liter. Sementara Desa Kertajaya mendapat 10.000 liter.

Distribusi juga menyasar Kecamatan Cijulang dengan total 75.000 liter. Rinciannya, Desa Batukaras menerima 35.000 liter, Cibanten 20.000 liter, serta Margacinta dan Kondangjajar masing-masing 10.000 liter.

Sementara Kecamatan Sidamulih mendapat pasokan 45.000 liter, yang seluruhnya disalurkan ke Desa Sidamulih.

9 Kecamatan Masuk Wilayah Terdampak

Krisis air bersih saat ini tercatat melanda sembilan kecamatan, yakni Cimerak, Cijulang, Parigi, Cigugur, Sidamulih, Pangandaran, Kalipucang, Padaherang dan Mangunjaya.

Dari jumlah tersebut, Cimerak menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak paling besar, mencapai 2.561 jiwa. Disusul Kalipucang sebanyak 2.231 jiwa dan Parigi sebanyak 1.708 jiwa.

Data tersebut menunjukkan persoalan kekeringan bukan lagi terjadi secara sporadis, tetapi telah menjangkau wilayah cukup luas dan berdampak langsung terhadap pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Baca Juga :  Hari Kedua TWF 2025 Dimeriahkan Delon, Pengunjung Membludak dan Transaksi Meningkat

Pemkab Pangandaran sebelumnya telah menetapkan Status Tanggap Darurat Kekeringan selama 90 hari, terhitung sejak 3 Juli hingga 30 September 2026.

Kemensos Tambah Tandon dan Alat Penjernih Air

Penanganan kekeringan juga diperkuat pemerintah pusat. Selain mengirimkan armada tangki, Kemensos menyalurkan enam unit tandon air dan enam paket penjernih air untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.

Salah satu paket penjernih air ditempatkan di Desa Limusgede, Kecamatan Cimerak, yang menjadi salah satu wilayah terdampak.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama musim kekeringan.

Kemensos sudah menyalurkan berbagai bantuan pemenuhan air bersih. Distribusi terus dilakukan ke wilayah terdampak agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama kekeringan berlangsung,” tegas Gus Ipul.

Di lapangan, proses verifikasi warga terdampak sekaligus distribusi bantuan terus dilakukan secara bersama-sama. Penanganan melibatkan Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana (PSKB) Kemensos, Dinas Sosial PMD Kabupaten Pangandaran, Tagana, BPBD, pemerintah kecamatan dan desa, hingga relawan.

Dengan status tanggap darurat yang masih berlangsung hingga akhir September, kebutuhan air bersih diperkirakan masih menjadi persoalan penting yang harus diantisipasi pemerintah, terutama jika curah hujan belum kembali normal.(AST)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *