STEM Tak Harus Canggih dan Mahal, Ferdiansyah Dorong Guru Tasikmalaya Manfaatkan Lingkungan sebagai Media Belajar

Image of Img 20260831 wa0006

TASIKMALAYA, pewarta.id — Pembelajaran berbasis sains, teknologi, engineering, dan matematika atau STEM tidak harus selalu menggunakan perangkat canggih maupun teknologi berbiaya mahal. Berbagai persoalan sehari-hari hingga benda sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar justru dapat diolah menjadi media pembelajaran yang mendorong peserta didik berpikir kritis.

 

Pesan tersebut mengemukan dalam Lokakarya Pembelajaran STEM Komisi X DPR RI bersama Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, yang digelar di Hotel Horison Tasikmalaya, Sabtu (29/8/2026).

Image of Img 20260831 wa0005

Anggota Komisi X DPR RI, H. Ferdiansyah, mengatakan guru perlu didorong untuk mengubah cara pandang dalam menerapkan pembelajaran STEM. Menurutnya, STEM bukan semata-mata soal penggunaan alat berteknologi tinggi, melainkan bagaimana peserta didik mampu memahami dan menganalisis persoalan melalui pendekatan lintas disiplin ilmu.

 

“Intinya, guru untuk melakukan STEM ini dalam konteks pembelajarannya, supaya juga menggunakan semua interdisiplin ilmu, atau multidisiplin ilmu,” kata Ferdiansyah.

 

Ia menjelaskan, pendekatan STEM dapat diterapkan pada seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas hingga sekolah menengah kejuruan.

 

Dalam penerapannya, guru dapat mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Bahkan, materi yang selama ini dianggap sederhana dapat dikembangkan menjadi bahan pembelajaran yang memadukan unsur sains, matematika, teknologi dan engineering.

 

Ferdiansyah mencontohkan persoalan zakat yang dapat menjadi sarana pembelajaran matematika melalui perhitungan sebesar 2,5 persen. Demikian pula persoalan pajak penghasilan yang dapat digunakan untuk melatih peserta didik memahami sistem perhitungan angka dalam kehidupan nyata.

 

“Misalnya tadi saya menyatakan kayak zakat, kan ada 2,5 persen, ada matematikanya dari penghitungan tertentu. Kemudian pajak kita, termasuk yang ada di negara kita, pajak penghasilan itu juga,” ujarnya.

 

Tidak hanya persoalan ekonomi, berbagai fenomena sosial di daerah juga dinilai dapat menjadi objek pembelajaran. Salah satunya dengan mengajak peserta didik menganalisis data jumlah perkawinan dan perceraian yang terjadi di Kota Tasikmalaya.

 

Menurut Ferdiansyah, data tersebut dapat digunakan sebagai contoh bagaimana peserta didik belajar membaca angka, membandingkan data dan menarik kesimpulan terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Baca Juga :  Garut Jadi Rujukan Kaji Tiru Pengembangan UMKM Kabupaten Tabalong

 

“Jumlah angka perceraian di Tasik, jumlah perkawinan, misalnya 4.500 per tahun. Tapi yang cerai 2.000, berarti kan darurat bagi Kota Tasik bahwa tingkat perceraiannya bisa hampir 40 persen dengan perbandingan antara jumlah perkawinan. Nah, kayak gitu. Ini hanya contoh,” sambungnya.

 

Selain mengangkat persoalan nyata, Ferdiansyah juga mendorong guru untuk lebih kreatif memanfaatkan barang-barang sederhana di sekitar lingkungan sebagai media belajar.

 

Galon dan paralon, misalnya, dapat digunakan dalam praktik pembuatan biogas. Sementara sisa makanan dapat dimanfaatkan dan dipelajari proses pengolahannya menjadi pupuk. Kegiatan sederhana tersebut, kata dia, sudah mengandung unsur rekayasa atau engineering.

 

“Teknologi yang kami sampaikan juga bukan yang sangat canggih. Pemanfaatan galon dan paralon untuk biogas misalnya, kemudian pemanfaatan bekas-bekas makanan untuk menjadi pupuk. Nah, itu kan juga ada engineering-nya,” jelasnya.

 

Ia juga mencontohkan pemanfaatan teknologi sederhana seperti kerekan timba maupun sistem penggerak sumur sebagai bahan pembelajaran untuk mengenalkan prinsip-prinsip mekanika kepada peserta didik.

 

Karena itu, menurut Ferdiansyah, guru tidak perlu selalu terbebani dengan kebutuhan menyediakan alat pembelajaran baru yang mahal. Potensi lingkungan sekitar sekolah justru harus mampu dibaca dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar.

 

“Guru kita ajarkan untuk melihat sekeliling, apa yang bisa dimanfaatkan untuk bahan ajar tanpa repot-repot harus mengadakan sesuatu untuk bahan ajar,” katanya.

 

Benda yang paling sederhana sekalipun dapat memiliki nilai pembelajaran. Ferdiansyah mencontohkan ranting-ranting yang berserakan di lingkungan sekolah PAUD dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan sebagai alat bantu berhitung.

 

Jika tersedia sekitar 200 ranting, guru dapat menggunakannya untuk mengenalkan konsep angka, pengelompokan hingga operasi matematika dasar kepada anak-anak. Pendekatan tersebut dinilai membuat proses belajar lebih dekat dengan lingkungan dan mudah dipahami peserta didik.

 

Melalui pola pembelajaran seperti itu, STEM diharapkan tidak lagi dipahami sebagai metode pendidikan yang sulit dan eksklusif. Sebaliknya, pembelajaran dapat dimulai dari persoalan yang ditemui setiap hari dan dikembangkan melalui proses pengamatan, analisis, perhitungan hingga pencarian solusi.

 

Lokakarya STEM di Tasikmalaya sendiri diikuti para guru yang terlebih dahulu menjalani proses seleksi melalui pretest. Tingginya minat guru disebut menjadi salah satu indikator meningkatnya perhatian terhadap pengembangan metode pembelajaran tersebut.

Baca Juga :  Kerugian Miliaran Akibat Skem, OJK Ingatkan Warga Priangan

 

Ferdiansyah menyebut, setiap satu kursi peserta diperebutkan oleh sekitar tujuh orang guru yang mendaftar untuk mengikuti kegiatan.

 

“Jadi, intinya, satu kursi ini diperebutkan tujuh orang. Animonya alhamdulillah cukup bagus. Memang belum terlalu bagus menurut saya, tapi juga cukup bagus untuk kegiatan ini,” ujarnya.

 

Ia menegaskan, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memberikan pemahaman teori kepada peserta. Karena sifatnya implementatif, guru yang mengikuti lokakarya diharapkan mampu melakukan kajian dan analisis secara mendalam sebelum menerapkan pendekatan STEM dalam proses belajar mengajar.

 

“Karena ini sifatnya implementatif, maka kami mohon kepada para guru yang terpilih dan dipilih ini bisa melakukan kajian analisis yang mendalam, dan itu bisa diterapkan ke peserta didik,” katanya.

 

Menurut Ferdiansyah, tantangan terbesar dalam memperluas penerapan pembelajaran mendalam dan STEM masih berkaitan dengan pemahaman guru. Oleh sebab itu, penguatan kapasitas tidak dapat dilakukan hanya melalui satu atau dua kali pelatihan.

 

“Tantangannya soal pemahaman. Dialihkan ke pembelajaran mendalam dan STEM ini tidak bisa sekali dua kali,” ujarnya.

 

Ia mengapresiasi langkah Pusat Kurikulum dan Pembelajaran yang terus menggelar kegiatan serupa sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman guru terhadap pembelajaran mendalam dalam konteks STEM.

 

Ke depan, Ferdiansyah menargetkan minimal lima persen guru di Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Garut dapat mengikuti kegiatan pembelajaran mendalam berbasis STEM.

 

Target tersebut, menurutnya, membutuhkan proses berkelanjutan dan tidak mungkin diwujudkan hanya melalui satu kegiatan. Karena itu, diperlukan tindak lanjut serta dukungan pemerintah daerah agar semakin banyak guru memperoleh kesempatan meningkatkan kapasitasnya.

 

“Gak mungkin guru se-Tasik dicandak, guru se-Garut dicandak. Maka itu, saya menargetkan minimal 5 persen guru di Kabupaten Garut, Kabupaten Tasik dan Kota Tasik, ikut kegiatan STEM ini,” pungkasnya.

 

Dengan semakin banyak guru yang memahami pendekatan STEM, pembelajaran diharapkan tidak hanya membuat peserta didik menguasai teori. Lebih dari itu, peserta didik dapat terbiasa melihat persoalan di sekitarnya, menganalisis data, mencari solusi, berpikir kritis serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *