CIAMIS, Pewarta.id – Prestasi membanggakan datang dari Desa Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Perguruan Pencak Silat Satria Tapak Jalak berhasil menorehkan tinta emas dengan menyabet juara pertama dan kedua pada ajang Sport Education Championship (SEC) Pencak Silat 2026 Tingkat Priangan yang digelar di Gelanggang Galuh Taruna (GGT), Ciamis, Sabtu–Minggu (02–03/05/2026).
Kejuaraan bergengsi ini diikuti oleh 44 perguruan pencak silat dari seluruh wilayah Priangan, menjadikannya salah satu kompetisi paling bergengsi di tingkat regional Jawa Barat. Di tengah persaingan yang ketat, atlet-atlet belia dari Satria Tapak Jalak tampil penuh keyakinan dan pulang membawa gelar juara.
Empat Atlet Cilik Ukir Prestasi di Dua Kategori
Ketua Perguruan Satria Tapak Jalak sekaligus pelatih, Tatang Setiawan, mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas pencapaian luar biasa para anak didiknya dalam dua kategori sekaligus.
Pada kategori tanding usia dini 2a, Muhammad Ghani Ulin Nuha tampil impresif dan berhasil merebut gelar juara pertama. Sementara itu, pada kategori seni tunggal usia dini 2b, tiga atlet putri Satria Tapak Jalak kompak menorehkan prestasi gemilang, yakni Wahda Maudila, Agni Fatma Maura, dan Iqlima Putri Syafira. Keempat atlet tersebut masih berstatus siswa sekolah dasar, berasal dari SDN 1 Kertahayu dan SDN 5 Kertahayu, dengan rentang usia antara 9 hingga 11 tahun.
“Alhamdulillah, Muhammad Ghani Ulin Nuha meraih juara ke-1 untuk usia dini 2a, sedangkan untuk seni tunggal usia dini 2b diraih oleh Wahda Maudila, Agni Fatma Maura, dan Iqlima Putri Syafira. Mereka berusia antara 9 sampai 11 tahun, berasal dari SDN 1 Kertahayu dan SDN 5 Kertahayu,” tutur Tatang Setiawan kepada Pewarta.id, Sabtu (02/05/2026).
Pencapaian ini semakin bermakna mengingat usia para atlet yang masih sangat belia, namun mampu bersaing dan melampaui kontestan dari puluhan perguruan lain yang turut berpartisipasi dalam kejuaraan tersebut.
Menanamkan Kecintaan terhadap Pencak Silat sejak Dini
Di balik keberhasilan yang diraih, Tatang menyimpan harapan yang jauh lebih besar dari sekadar medali juara. Baginya, keterlibatan anak-anak dalam kompetisi resmi merupakan bagian dari proses panjang penanaman rasa cinta terhadap pencak silat sebagai warisan budaya bangsa.
Ia menilai bahwa frekuensi keikutsertaan dalam event kejuaraan menjadi faktor penting dalam membentuk minat dan dedikasi generasi muda terhadap cabang olahraga beladiri khas Nusantara ini.
“Dengan seringnya kegiatan event kejuaraan, anak-anak dapat menyukai dan belajar, khususnya cabang olahraga pencak silat, sebagai bentuk tanggung jawab generasi bangsa atas warisan kebudayaan pencak silat dari nenek moyang kita,” harap Tatang.
Pernyataan itu mencerminkan visi pembinaan jangka panjang yang diemban Satria Tapak Jalak — bukan hanya mencetak atlet berprestasi, tetapi juga menjadi garda terdepan pelestarian budaya leluhur melalui jalur olahraga.
Bukti Potensi dari Desa
Keberhasilan Perguruan Satria Tapak Jalak di ajang SEC 2026 ini menjadi bukti nyata bahwa bakat dan prestasi tidak mengenal batas geografis. Berlokasi di Desa Kertahayu yang merupakan kawasan pedesaan di Kecamatan Pamarican, perguruan ini mampu bersaing dan unggul di tengah 44 perguruan yang sebagian besar berasal dari berbagai penjuru wilayah Priangan.
Pencak silat sendiri merupakan warisan budaya tak benda Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO sejak tahun 2019. Keberadaan perguruan-perguruan seperti Satria Tapak Jalak di tingkat desa menjadi pilar penting dalam menjaga keberlangsungan seni beladiri ini agar tetap hidup dan diminati oleh generasi penerus bangsa.
Dengan raihan prestasi di ajang bergengsi ini, diharapkan semakin banyak anak-anak di wilayah Pamarican dan sekitarnya yang tertarik untuk bergabung dan menekuni pencak silat, sekaligus mengharumkan nama daerah di kompetisi yang lebih luas di masa mendatang.











