CIAMIS, pewarta.id – Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pengembangan komoditas pertanian terus dilakukan di berbagai daerah. Di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pemerintah daerah bersama Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Muktisari, kepolisian, dan kelompok tani mulai mengembangkan budidaya bawang merah.
Pengembangan bawang merah tersebut diawali dengan pemanfaatan lahan seluas satu hektare milik KDMP Muktisari, Desa Muktisari, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis.
Lahan tersebut dijadikan sebagai pilot project atau proyek percontohan untuk melihat potensi pengembangan budidaya bawang merah di wilayah Ciamis.
Jika tahap awal ini berhasil, pengembangan lahan bawang merah akan dilakukan secara bertahap dengan target mencapai hingga 50 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis.
Dimulai dari Lahan Satu Hektare
Penanaman bawang merah dilakukan di lahan seluas satu hektare di wilayah Muktisari, Kecamatan Cipaku. Lahan ini dipilih sebagai lokasi percontohan sebelum budidaya bawang merah dikembangkan dalam skala yang lebih luas.
Dalam tahap awal, benih bawang merah yang digunakan berasal dari Brebes, Jawa Tengah, dengan varietas Bima.
Pemilihan varietas tersebut menjadi bagian dari tahap awal pengembangan untuk melihat kesesuaian tanaman dengan kondisi lahan dan lingkungan di Kabupaten Ciamis.
Tidak hanya mengejar hasil panen, pengembangan ini juga diarahkan agar ke depan Ciamis mampu menghasilkan benih bawang merah unggulan yang memiliki karakteristik khas daerah.
Benih unggulan tersebut nantinya diharapkan dapat dikembangkan dan dikenal dengan nama Mutiara Galuh.
Dengan demikian, pengembangan bawang merah di Ciamis tidak hanya berhenti pada kegiatan produksi, tetapi juga diarahkan untuk membangun komoditas pertanian yang memiliki identitas daerah.
Ditargetkan Meluas hingga 50 Hektare
Kabag Dalpers Polda Jawa Barat AKBP Hidayatullah mengatakan, keberhasilan pilot project di Muktisari akan menjadi salah satu dasar untuk memperluas penanaman bawang merah di Kabupaten Ciamis.
Menurutnya, jika budidaya di lahan percontohan tersebut menunjukkan hasil sesuai target, luas lahan penanaman akan dikembangkan secara bertahap hingga mencapai 50 hektare.
“Harapan kita semua, kita akan membuat brand di Kabupaten Ciamis ini menjadi sentra bawang, minimal bawang goreng maupun minyak bawang. Kebutuhan bawang di Indonesia saat ini masih banyak diimpor dari luar. Mudah-mudahan Ciamis suatu saat nanti bisa mengekspor bawang merah ini ke luar negeri.”
Pengembangan tersebut juga tidak hanya mengandalkan perluasan lahan. Kelompok tani di Muktisari dipersiapkan untuk menjadi bagian penting dalam proses pendampingan kepada petani lainnya.
Kelompok tani diharapkan dapat memberikan edukasi sekaligus bimbingan teknis mengenai budidaya bawang merah, mulai dari proses penanaman, pemeliharaan, hingga pengelolaan hasil panen.
Dengan pola tersebut, pengetahuan dan pengalaman dari lahan percontohan diharapkan dapat ditularkan kepada kelompok tani maupun koperasi desa lainnya.
Libatkan Koperasi Desa Merah Putih
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah dan Perdagangan (KUKMP) Kabupaten Ciamis, Dadan Wiadi, mengatakan kegiatan pengembangan bawang merah tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendorong peran Koperasi Desa Merah Putih dalam pengembangan potensi ekonomi masyarakat di desa.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 30 pengurus Koperasi Desa Merah Putih dari berbagai wilayah di Kabupaten Ciamis turut hadir.
Kehadiran para pengurus koperasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang replikasi program di wilayah masing-masing.
Pasalnya, pilot project di Muktisari ditargetkan tidak hanya berjalan di satu lokasi, tetapi dapat dikembangkan oleh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih lainnya.
Pemerintah Kabupaten Ciamis menargetkan pengembangan tersebut nantinya dapat direplikasi oleh 265 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Ciamis.
Dengan keterlibatan koperasi, pengembangan bawang merah diharapkan dapat membentuk ekosistem usaha yang lebih terintegrasi, mulai dari penyediaan sarana produksi, budidaya, pengelolaan hasil panen, hingga pemasaran.
Target Produksi 15 Ton per Hektare
Pemerintah daerah menargetkan produktivitas bawang merah dalam program tersebut dapat mencapai sekitar 15 ton per hektare.
Target tersebut menjadi salah satu indikator untuk melihat keberhasilan pengembangan pada tahap awal.
Jika hasil produksi sesuai harapan, perluasan lahan dapat dilakukan secara bertahap sehingga produksi bawang merah dari Kabupaten Ciamis semakin meningkat.
Namun, pengembangan komoditas ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan bawang merah dalam bentuk bahan mentah.
Pemerintah juga mulai menyiapkan konsep pengolahan hasil pertanian agar bawang merah memiliki nilai tambah ketika sampai ke tangan konsumen.
Tidak Berhenti pada Penjualan Bahan Mentah
Ke depan, hasil panen bawang merah diharapkan tidak seluruhnya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Pengembangan industri pengolahan menjadi salah satu rencana lanjutan, antara lain melalui produksi bawang goreng hingga minyak bawang.
Konsep tersebut merupakan bagian dari upaya hilirisasi hasil pertanian.
Dengan hilirisasi, hasil produksi petani tidak hanya memiliki nilai ekonomi saat berada di tingkat budidaya, tetapi juga dapat memberikan tambahan nilai setelah melalui proses pengolahan.
Pengembangan industri pengolahan juga membuka peluang munculnya usaha baru di tingkat masyarakat, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah yang bergerak di bidang pengolahan maupun pemasaran produk bawang.
Produk olahan tersebut nantinya dapat dikembangkan sebagai bagian dari identitas komoditas unggulan Kabupaten Ciamis.
Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Masyarakat
Pengembangan bawang merah di Ciamis pada akhirnya tidak hanya menyasar peningkatan produksi pertanian.
Program ini diarahkan untuk membangun rantai usaha yang lebih panjang, mulai dari penyediaan benih, proses budidaya, pendampingan petani, produksi, pengolahan, hingga pemasaran.
Keberadaan lahan percontohan seluas satu hektare di Muktisari menjadi tahap awal untuk menguji model tersebut.
Jika berhasil, model pengembangan dapat direplikasi di wilayah lain dengan melibatkan kelompok tani dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Target perluasan hingga 50 hektare menjadi langkah berikutnya untuk meningkatkan skala produksi bawang merah di Kabupaten Ciamis.
Dalam jangka panjang, pengembangan tersebut diharapkan dapat melahirkan sentra produksi bawang merah sekaligus industri pengolahan berbasis komoditas lokal.
Tidak hanya meningkatkan produksi, pengembangan bawang merah juga diharapkan membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperkuat aktivitas ekonomi di tingkat desa, serta mendukung ketahanan pangan daerah.
Ciamis pun diarahkan tidak hanya menjadi daerah penghasil bawang merah, tetapi juga memiliki produk olahan dan, dalam jangka panjang, benih unggulan sendiri yang dapat menjadi identitas pertanian daerah.
Dengan dimulainya pilot project di Muktisari, pengembangan bawang merah kini memasuki tahap awal. Keberhasilan budidaya satu hektare tersebut akan menjadi pijakan untuk mewujudkan target perluasan hingga 50 hektare serta pengembangan ekosistem bawang merah dari hulu hingga hilir di Kabupaten Ciamis.


