PANGANDARAN, pewarta.id – Satu tahun menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kedungwuluh 02, Desa Kedungwuluh, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mulai mengevaluasi berbagai aspek pelaksanaan program, mulai dari kekompakan relawan hingga pengembangan menu sesuai aspirasi penerima manfaat.
Evaluasi tersebut disampaikan dalam kegiatan doa bersama dan santunan anak yatim dan piatu yang digelar dalam rangka memperingati satu tahun operasional SPPG Kedungwuluh 02, Sabtu (26/9/2026).
Ratusan masyarakat Desa Kedungwuluh turut mengikuti kegiatan tersebut. Selain doa bersama, santunan anak yatim dan piatu juga dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah (door to door) bersama para relawan.
Kepala SPPG Kedungwuluh 02, Imam Mualif, mengatakan peringatan satu tahun operasional menjadi momentum untuk melakukan tasyakuran sekaligus melihat kembali pelaksanaan program selama setahun terakhir.
Menurut Imam, evaluasi diperlukan agar pelaksanaan MBG ke depan dapat terus diperbaiki, terutama dalam menjaga kekompakan para relawan dan memastikan pelayanan kepada penerima manfaat berjalan dengan baik.
“Evaluasi untuk satu tahun ke belakang, yang pertama adalah evaluasi secara fisik bagi para relawan, terutama dalam menjaga kekompakan. Karena kita tahu bersama, dalam program MBG, masyarakat memantau pelaksanaannya dan ingin menjaga kesejahteraan penerima manfaat. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar SPPG,” ujar Imam saat diwawancarai wartawan, Sabtu (26/9/2026).
Ia mengatakan keberadaan SPPG menjadi bagian yang diperhatikan masyarakat sehingga setiap proses pelaksanaannya perlu terus dievaluasi. Masukan dari masyarakat dan penerima manfaat menjadi salah satu bahan untuk melihat hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
Salah satu evaluasi yang menjadi perhatian adalah pengembangan menu MBG. Imam menyebut pihaknya menerima berbagai permintaan menu dari penerima manfaat.
Menurutnya, aspirasi tersebut perlu menjadi pertimbangan tenaga ahli gizi dalam mengembangkan menu, dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan pemenuhan gizi.
“Banyak permintaan menu dari penerima manfaat. Karena itu, tenaga ahli gizi perlu mengembangkan menu yang disukai penerima manfaat, termasuk kelompok B3,” katanya.
Selain evaluasi menu, kegiatan satu tahun operasional tersebut juga diisi dengan motivasi kepada para karyawan dan relawan yang disampaikan oleh seorang ustaz.
Imam berharap momentum tersebut dapat menjadi penguat bagi seluruh unsur yang terlibat dalam pelaksanaan MBG, sekaligus menjadi ruang untuk memperbaiki berbagai kekurangan selama satu tahun terakhir.
“Jadi bukan hanya seremonial, tetapi bagaimana satu tahun ini menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberlanjutan program membutuhkan koordinasi antara pengelola SPPG, relawan, tenaga ahli gizi dan masyarakat sebagai penerima manfaat.
Dengan evaluasi secara berkala, SPPG Kedungwuluh 02 berharap pelaksanaan MBG dapat terus diperbaiki, baik dari sisi pelayanan maupun pengembangan menu, sehingga manfaat program dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.(epul)


