Ngawi, pewarta.id – Di tengah gempuran mainan modern, Suwarno, seorang pria berusia 70 tahun, asal Ponorogo masih setia menekuni kerajinan tradisional yang kian langka, membuat mainan wayang dari karton. Sudah lebih dari tiga dekade ia mengabdikan diri pada seni ini, meski hingga kini belum ada generasi penerus yang melanjutkan jejaknya.
Setiap tokoh wayang yang ia buat membutuhkan waktu berjam-jam, mulai dari menggambar, memahat, melukis, hingga merakit. “Bikin sendiri, semua dari kardus,” ujarnya sambil tersenyum ramah menyapa pembeli di lapak kecilnya. Senyum itu tak pernah pudar, meski usia menua dan tantangan semakin berat.

Suwarno biasanya berjualan mengikuti pagelaran wayang. Di setiap acara, ia hadir dengan koleksi wayang karton yang dijual mulai dari Rp30 ribu untuk ukuran kecil, hingga Rp90 ribu untuk ukuran besar.
“Kalau ada wayang, dimanapun seperti Ponorogo, Madiun, Caruban, Ngawi, Nganjuk dan Bojonegoro saya ikut jualan. Kadang keliling ,” katanya.

Meski peminat wayang tak seramai dulu, Suwarno tetap bersemangat. Ia mengingat masa-masa tahun 2000-an ketika anak-anak dan ibu-ibu masih antusias membeli wayang buatannya. Kini, pembeli datang silih berganti, kadang ramai, kadang sepi. “Alhamdulillah, masih ada yang beli,” ucapnya.
Namun, di balik semangat itu tersimpan kegelisahan. Anak-anaknya sudah memiliki pekerjaan sendiri, dan tak ada yang berminat meneruskan usaha ini. “Penerusnya nggak ada. Padahal seni ini mahal, jarang orang bisa bikin,” tuturnya lirih. Harapannya sederhana: agar generasi muda kembali mengenal dan mencintai wayang, sehingga tradisi ini tidak hilang ditelan zaman.
Suwarno adalah potret keteguhan hati seorang pengrajin yang berjuang menjaga warisan budaya. Di usia senjanya, ia tetap berdiri tegak, menjual karya yang lahir dari cinta dan kesabaran. Wayang karton buatannya bukan sekadar mainan, melainkan simbol ketekunan dan harapan agar seni tradisi tetap hidup.***











