Lintas Generasi, Tiga Paguyuban Karawitan di Bandung Rawat Tradisi Gamelan

Image of Img 20260729 wa0104

BANDUNG, pewarta.id  – Di tengah hiruk pikuk kota modern, suara gamelan kembali bergema di ruang karawitan PTDI Bandung, Rabu siang 30 Juli 2026. Tiga paguyuban karawitan lintas generasi berkumpul, membuktikan bahwa seni tradisi Jawa masih berdenyut kuat di tanah Priangan.

Paguyuban Rekso Budoyo 2 PTDI, Sanyuri, dan Asmari tampil bergiliran membawakan gending klasik hingga Banyumasan. Dari tabuhan ladrang, ketawang, hingga langgam riang seperti Mentog-mentog dan Kupu Kuwi, suasana latihan berubah menjadi perayaan budaya.

Para Sepuh Jadi Motor Pelestarian
Paguyuban Sanyuri, beranggotakan para senior asal Kediri yang menetap di Bandung, menurunkan 20 anggota. “Latihan bersama bukan sekadar musik, tapi cara kami menjaga silaturahmi dan menambah kebahagiaan batin,” ujar Djoko Agoes Setijono, penabuh kenong.

Baca Juga :  SURVEY DAMPAK MERDEKA BELAJAR KAMPUS MERDEKA TERHADAP MOTIVASI BELAJAR UNTUK MENDAPATKAN SOFTSKILL DAN HARDSKILL PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI FTIK UNIKOM

Sementara itu, Rekso Budoyo 2 PTDI yang berisi pensiunan PTDI tetap bersemangat. Dengan 17 pengrawit, mereka menabuh gending klasik seperti Ladrang Wilujeng dan Ayun-ayun. “Latihan ini jadi sarana evaluasi sekaligus penyemangat,” kata Purwoko Sudarmo.

Alumni Muda Ikut Meramaikan
Tak hanya para sepuh, Asmari—alumni SMA Negeri Purwokerto di Bandung—membawa nuansa Banyumasan dengan gending Manyar Sewu dan Ricik-ricik Banyumasan. Kehadiran mereka menunjukkan regenerasi karawitan tetap berjalan.

Baca Juga :  Pagelaran Kreasi Priangan Timur (PKPT) - Puspa Kriya 2023

Menuju Panggung Publik
Latihan bersama ini baru kali kedua digelar, namun sudah menyalakan harapan besar. Purwoko menegaskan, ke depan mereka ingin tampil di panggung umum agar masyarakat luas bisa menikmati karawitan.

Semangat lintas generasi ini menegaskan bahwa gamelan bukan sekadar musik tradisi, melainkan perekat sosial yang menjaga identitas budaya tetap hidup di tengah modernitas.[gpwk]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *