BANDUNG, pewarta.id – Di tengah hiruk pikuk kota modern, suara gamelan kembali bergema di ruang karawitan PTDI Bandung, Rabu siang 30 Juli 2026. Tiga paguyuban karawitan lintas generasi berkumpul, membuktikan bahwa seni tradisi Jawa masih berdenyut kuat di tanah Priangan.
Paguyuban Rekso Budoyo 2 PTDI, Sanyuri, dan Asmari tampil bergiliran membawakan gending klasik hingga Banyumasan. Dari tabuhan ladrang, ketawang, hingga langgam riang seperti Mentog-mentog dan Kupu Kuwi, suasana latihan berubah menjadi perayaan budaya.
Para Sepuh Jadi Motor Pelestarian
Paguyuban Sanyuri, beranggotakan para senior asal Kediri yang menetap di Bandung, menurunkan 20 anggota. “Latihan bersama bukan sekadar musik, tapi cara kami menjaga silaturahmi dan menambah kebahagiaan batin,” ujar Djoko Agoes Setijono, penabuh kenong.
Sementara itu, Rekso Budoyo 2 PTDI yang berisi pensiunan PTDI tetap bersemangat. Dengan 17 pengrawit, mereka menabuh gending klasik seperti Ladrang Wilujeng dan Ayun-ayun. “Latihan ini jadi sarana evaluasi sekaligus penyemangat,” kata Purwoko Sudarmo.
Alumni Muda Ikut Meramaikan
Tak hanya para sepuh, Asmari—alumni SMA Negeri Purwokerto di Bandung—membawa nuansa Banyumasan dengan gending Manyar Sewu dan Ricik-ricik Banyumasan. Kehadiran mereka menunjukkan regenerasi karawitan tetap berjalan.
Menuju Panggung Publik
Latihan bersama ini baru kali kedua digelar, namun sudah menyalakan harapan besar. Purwoko menegaskan, ke depan mereka ingin tampil di panggung umum agar masyarakat luas bisa menikmati karawitan.
Semangat lintas generasi ini menegaskan bahwa gamelan bukan sekadar musik tradisi, melainkan perekat sosial yang menjaga identitas budaya tetap hidup di tengah modernitas.[gpwk]











