CIAMIS, pewarta.id — Peringatan Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia di Kompleks Situs Bojong Galuh Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kembali menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen masyarakat Tatar Galuh terhadap nilai perdamaian, toleransi, dan keharmonisan antarmanusia.
Peringatan yang digelar setiap 9 September tersebut tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan. Pemerintah Kabupaten Ciamis berharap keberadaan Gong Perdamaian Dunia dapat semakin dikenal luas dan membawa dampak nyata bagi masyarakat, khususnya terhadap sektor ekonomi, pariwisata, serta investasi daerah.
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengatakan, pelaksanaan Milangkala Gong Perdamaian Dunia ke-17 menunjukkan bahwa masyarakat Tatar Galuh memiliki kecintaan yang kuat terhadap perdamaian.
“Alhamdulillah, hari ini kita melaksanakan Milad Gong Perdamaian Dunia yang ke-17. Ini membuktikan bahwa masyarakat Tatar Galuh, Kabupaten Ciamis, begitu mencintai perdamaian,” kata Herdiat.
Menurutnya, semangat perdamaian yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Ciamis perlu terus diperluas. Pesan tersebut diharapkan tidak berhenti di tingkat daerah, tetapi dapat bergema hingga Jawa Barat, tingkat nasional, bahkan dunia.
“Ini harus kita wujudkan lebih luas lagi, tidak hanya Ciamis. Kalau perlu Jawa Barat, nasional, bahkan dunia,” ujarnya.
Herdiat menilai, Ciamis memiliki modal sejarah dan budaya yang kuat untuk membawa pesan tersebut. Tatar Galuh memiliki perjalanan sejarah panjang yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Ciamis.
Ia menyebut sejarah Galuh yang telah berlangsung sejak sekitar tahun 739 Masehi menjadi salah satu landasan penting dalam memahami nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur.
Dalam peringatan tersebut, nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal juga kembali diangkat melalui pembahasan para tokoh adat dan budaya, termasuk Kasepuhan serta budayawan yang hadir dalam kegiatan.
Herdiat berharap penyelenggaraan Milangkala Gong Perdamaian Dunia pada tahun-tahun mendatang dapat dikembangkan lebih baik sehingga tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
“Yang paling utama harus berdampak untuk masyarakat Ciamis. Paling tidak dampak perekonomiannya harus lebih bagus, harus lebih meningkat,” tegasnya.
Menurut Herdiat, citra Ciamis sebagai daerah yang damai dan kondusif juga dapat menjadi modal penting untuk menarik minat investor.
Ia berharap semakin kuatnya citra daerah yang aman, damai, dan kondusif dapat membuka peluang lebih besar bagi para investor untuk datang dan menanamkan modalnya di Kabupaten Ciamis.
“Dengan Galuh yang damai, Galuh yang kondusif, banyak yang mau datang, mau menanamkan modalnya di Ciamis agar lebih baik,” katanya.
Untuk memperluas gaung Gong Perdamaian Dunia, Pemerintah Kabupaten Ciamis juga berencana mengundang perwakilan diplomatik, khususnya para duta besar negara sahabat yang berada di Jakarta.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkenalkan Ciamis kepada dunia sekaligus menunjukkan bahwa nilai perdamaian telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tatar Galuh.
“Paling tidak duta-duta besar yang ada di Jakarta akan kita undang. Kita menunjukkan kepada dunia bahwa perdamaian itu di Ciamis sudah berdiri sejak berabad-abad yang lalu,” ungkap Herdiat.
Ia mengakui upaya tersebut membutuhkan proses. Namun, pemerintah daerah akan terus berusaha agar pada penyelenggaraan mendatang semakin banyak perwakilan negara lain yang dapat hadir secara langsung.
“Insya Allah, mudah-mudahan tahun depan ada yang mau hadir. Tapi paling tidak kita berupaya, berusaha agar mereka hadir,” ujarnya.
Gong Perdamaian Dunia di Kompleks Situs Bojong Galuh Karangkamulyan sendiri merupakan salah satu simbol perdamaian yang menjadi bagian dari identitas budaya Ciamis.
Gong tersebut memiliki diameter sekitar 3,33 meter. Permukaannya dihiasi lambang dan bendera dari berbagai negara serta simbol-simbol keagamaan yang merepresentasikan persaudaraan, keberagaman, toleransi, dan perdamaian universal.
Gong Perdamaian Dunia tersebut digagas oleh sejumlah tokoh masyarakat bersama budayawan dan diresmikan pada 9 September 2009.
Sejak saat itu, setiap tanggal 9 September diperingati sebagai momentum Milangkala Gong Perdamaian Dunia. Kegiatan biasanya diisi dengan kirab kebhinekaan, pertunjukan seni budaya, serta berbagai kegiatan yang mengangkat nilai-nilai perdamaian dan keberagaman.
Keberadaan Gong Perdamaian Dunia juga semakin mempertegas posisi Tatar Galuh sebagai daerah yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya sekaligus menjunjung tinggi nilai kearifan lokal.
Memasuki usia ke-17, Herdiat berharap keberadaan gong tersebut tidak hanya dikenang sebagai sebuah monumen atau lokasi penyelenggaraan agenda tahunan.
Menurutnya, nilai perdamaian harus diterjemahkan menjadi gerakan yang memberikan manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat.
“Makna yang diambil dari 17 tahun ini, kita harus lebih baik, lebih maju, dan lebih berkembang lagi,” katanya.
Herdiat bahkan mengingatkan agar peringatan Gong Perdamaian Dunia tidak berhenti pada kegiatan seremonial setiap tahun.
“Jangan begini-begini terus, hanya upacara seremonial. Tapi dampak atau perkembangannya untuk masyarakat kurang. Harusnya lebih banyak efeknya untuk kemajuan, berdampak baik untuk Ciamis,” tegasnya.
Dengan demikian, Milangkala ke-17 Gong Perdamaian Dunia diharapkan menjadi titik penguatan baru bagi Ciamis. Pesan perdamaian yang selama ini dikumandangkan dari Karangkamulyan diharapkan dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkuat pariwisata, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta membuka peluang investasi di Kabupaten Ciamis.
Semangat tersebut sekaligus menjadi upaya menjadikan nilai-nilai luhur Tatar Galuh bukan hanya sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai modal sosial untuk membangun Ciamis yang semakin maju, terbuka, damai, dan dikenal hingga tingkat dunia.***











