IJTI Galuh Raya Pangandaran Gelar Doa Bersama untuk Lima Jurnalis Hilang di Anak Krakatau

DST

Image of Img 20260920 wa0093

PANGANDARAN, pewarta.id – Malam Minggu di pesisir Pangandaran berubah menjadi ruang hening penuh harapan. Biasanya kamera dan mikrofon menjadi senjata para jurnalis untuk merekam peristiwa, namun kali ini keduanya dikesampingkan. Yang tampak hanyalah tangan yang menengadah, lantunan doa dan dzikir, serta cahaya lilin yang berpendar di tepi pantai.

 

Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Galuh Raya bersama sejumlah organisasi pers menggelar doa bersama pada Minggu malam 20 September 2026, pukul 19.00 WIB. Acara ini dipersembahkan untuk lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hingga kini belum diketahui keberadaannya setelah dilaporkan hilang saat meliput aktivitas Anak Gunung Krakatau.

 

Kelima jurnalis yang adalah:

– M. Bagus Khoirunnas (Antara)

– Arie Basuki (Merdeka.com)

– Yudistiro Pranoto (iNews)

– Firman Daus (Anadolu Agency)

– Donal Husni, jurnalis lepas

 

Suasana haru menyelimuti ketika doa dan dzikir bergema di sepanjang pantai. Para jurnalis yang hadir berharap pencarian segera menemukan titik terang sehingga rekan mereka dapat kembali berkumpul bersama keluarga.

 

Solidaritas dan Harapan

Pembawa acara, Aldi Nurfadillah, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk solidaritas sekaligus penguat bagi keluarga dan rekan-rekan lima jurnalis yang masih menunggu kabar. Ia mengingatkan bahwa pekerjaan jurnalistik memiliki risiko besar yang tidak selalu dapat diprediksi ketika seorang jurnalis berada di lapangan.

 

Cahaya lilin yang dinyalakan malam itu menjadi simbol harapan agar kelima jurnalis segera ditemukan. Tidak ada kamera yang mengejar gambar dramatis, tidak ada mikrofon yang menunggu pernyataan narasumber. Para jurnalis berkumpul dalam satu tujuan: memanjatkan doa agar rekan seprofesi kembali dengan selamat.

 

Risiko Profesi Jurnalistik

Peristiwa hilangnya lima jurnalis di Anak Krakatau kembali menegaskan betapa besar risiko yang dihadapi pekerja media. Tugas jurnalistik bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga menghadapi medan berbahaya, cuaca ekstrem, hingga ancaman keselamatan jiwa.

 

IJTI Galuh Raya menekankan pentingnya perlindungan dan dukungan bagi jurnalis di lapangan. Solidaritas yang ditunjukkan malam itu menjadi pengingat bahwa profesi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan untuk menyuarakan kebenaran demi kepentingan publik.***

Facebook Comments Box

Also Read

Bagikan:

[addtoany]

DST

Tinggalkan komentar