Tasikmalaya, pewarta.id – Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh gabungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Rabu, 19 Februari 2025, berakhir dengan kericuhan. Aksi demonstrasi bertajuk “Indonesia Gelap” ini menolak adanya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Anggaran, serta berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat.
Menurut Korlap aksi Ahmad Riza Hidayat, aksi demonstrasi ini dilakukan untuk mengekspresikan kekecewaan mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak memperhatikan kepentingan masyarakat.
“Kita kecewa sekaligus tidak dihadiri beberapa pihak yang kita inginkan, tentu kita akan melakukan konsolidasi dengan eskalasi yang lebih besar,” tegasnya.
Ahmad Riza Hidayat menjelaskan bahwa aksi demonstrasi ini merupakan inisiasi dari rekan-rekan tentang keresahan masyarakat. “Ini aksi yang dilakukan daripada kawan-kawan aliansi aktivis rakyat menggugat Tasikmalaya tentunya ini adalah inisiasi dari rekan-rekan tentang keresahan, ini kita bukan untuk kemudian hari ini dengan tajuk Indonesia gelap tapi bagaimana kondisi kota Tasik dan kabupaten yang perlu diperhatikan,” ucapnya.
Menurut Ahmad, aksi demonstrasi ini tidak hanya menolak Inpres tentang Efisiensi Anggaran, tetapi juga menolak kenaikan biaya UKT yang dianggap tidak wajar.
“Tentu kita berharap kepada pemerintah pusat cabut instruksi presiden terkait efisiensi anggaran, karena efeknya lebih ke kenaikan biaya UKT,” keluhnya.
Sementara hari ini di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya biaya UKT terbilang tinggi dan banyak mahasiswa keberatan. “Ditakutkan ketika ada kenaikan ini akan ada pelonjakan biaya UKT, karena secara tidak langsung anggaran yang seharusnya dialokasikan ke pendidikan terpangkas sehingga akan merebut hak dan salah satunya biaya UKT semakin tinggi,” katanya.

Aksi ujuk rasa makin memanas. Massa kemudian membakar ban bekas di Jalan RE Martadinata tepatnya berada di Pos 1 depan Gedung DPRD Kota Tasikmalaya.
Aksi pun sempat dorong mendorong dengan petugas TNI, Pori, dan Satpol PP yang melakukan pengamanan. Namun, massa aksi semakin brutal setelah diguyur hujan dengan merusak pagar besi di Pos 2. Pagar itu langsung dilempar ke tengah jalan hingga didorong dan menghalangi pagar di pos 1.
Perusakan yang dilakukan oleh mahasiswa berlanjut, dan mereka melempari anggota Polisi, TNI, dan Satpol PP menggunakan batu dari luar pagar gedung DPRD. Akan massa ini dipukul mundur menggunakan Water Canon Polres Tasikmalaya Kota.***










