SOLO, pewarta.id — Hampir satu bulan berlalu sejak perhelatan Solo Keroncong Festival (SKF) 2026 sukses digulirkan. Meski riuh tepuk tangan penonton di jantung Kota Surakarta telah reda, catatan evaluasi mendalam justru perlu jadi perhatian mulai kini.
Ketua Panitia SKF 2026, BRM Bangkit Sanjaya, S.Pd., M.Sn. membagikan pandangan mendalamnya mengenai masa depan musik keroncong.
Bagi mantan musisi yang juga berkiprah di panggung rock ini, menjaga keroncong di era modern bukan lagi sekadar mempertahankan nostalgia, melainkan keberanian melompati batas-batas kebiasaan.
Gebrakan ‘Out of the Box’: Musik Kekinian Tanpa Kehilangan Pakem
Menilai dinamika penonton yang kian bergeser, Bangkit menegaskan bahwa promosi SKF ke depan tidak boleh berhenti di lingkup lokal Solo dan sekitarnya. Event tahunan ini harus digaungkan secara nasional demi menjangkau telinga publik yang lebih luas.
Namun, strategi utama pendorongnya ada pada sajian di atas panggung. Menurutnya, keroncong masa kini harus berani menampilkan aransemen yang lebih progresif dan kekinian agar relevan dengan telinga anak muda.
“Perubahan itu selalu ada dari zaman ke zaman. Musik pop, blues, hingga rock pun terus berkembang dan membaur dengan tren baru, bahkan dengan elemen DJ sekalipun. Keroncong pun bisa dicampuradukkan seperti itu, tanpa membuat jati diri keroncong itu sendiri hilang,” ujar Bangkit.
Ia tak menampik bahwa musik keroncong secara tradisional memiliki karakter laras yang cenderung monoton jika dinikmati terlalu lama oleh generasi muda. Karena itu, pertunjukan keroncong harus diulas sedemikian rupa menjadi tontonan yang memukau dan out of the box.
Ia mencontohkan penampilan grup mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung—Keroncong Lapis Legit—pada SKF 2026 lalu yang dinilainya sangat segar, kreatif, dan trendy, baik dari segi visual, kostum, maupun aransemen.
Menjawab Kekhawatiran Kaum Sepuh dan Perubahan Visual
Disinggung mengenai potensi kritik dari para penikmat senior atau kaum sepuh yang memegang teguh otentisitas, Bangkit meyakinkan bahwa pakem dasar keroncong tetap menjadi pondasi utama yang tidak boleh ditawar.
“Pakem itu keharusan agar keroncong tidak kehilangan jati dirinya. Namun kita harus berkaca pada realitas saat ini. Tontonan modern mengandalkan mata dan telinga. Penampilan penyanyi harus trendy, tidak boleh kuno. Kecuali jika tujuan kita murni hanya untuk bernostalgia,” tegasnya.
Bagi Bangkit, perubahan gaya panggung, tata lampu, hingga kostum adalah adaptasi visual yang mutlak diperlukan agar keroncong tidak mati tergerus zaman.
Rindu Keterpanggilan Seniman: “Pulanglah ke Kota Ibu Keroncong”
Selain evaluasi teknis pertunjukan dan promosi, Bangkit Sanjaya menyoroti fenomena bergesernya partisipasi para seniman dan musisi besar. Di tengah keterbatasan anggaran maupun fenomena komersialisasi industri musik, ia merindukan hadirnya rasa “keterpanggilan” (sense of belonging) dari para maestro dan penyanyi yang dulu dibesarkan oleh musik keroncong.
Mengambil analogi dari pengalamannya di kancah musik rock, Bangkit menyebut para musisi kerap berkumpul dan tampil dalam malam dana atau konser nostalgia tanpa meributkan urusan honor (fee), semata-mata demi keberlanjutan genre musik yang mereka cintai.
“Keroncong membutuhkan seniman yang berpartisipasi dengan jiwa. Artis-artis besar yang dulu pernah dibesarkan oleh keroncong, pulanglah kamu ke Solo, pulang ke kota ibu keroncong untuk membesarkan event ini,” tutur Bangkit dengan penuh harap.
Ia menekankan bahwa kesadaran ini tidak bisa lahir dari keterpaksaan. Panitia dan pihak terkait harus aktif merangkul, mendatangi, dan membuka ruang dialog agar para seniman tergerak hatinya untuk kembali bersama-sama membumikan keroncong di tanah air.[gpwk]











