Riset Nasional Ungkap Dampak Ganda Program MBG, Dari Perbaikan Gizi hingga Lahirkan Siswa Tangguh di Kelas

Image of Screenshot 2026 02 20 222235

Jakarta, pewarta.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah kini tak lagi hanya dipandang sebagai solusi pemenuhan urusan perut anak bangsa. Melalui riset komprehensif yang dihelat bersama oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) selama tahun 2025, terungkap fakta bahwa MBG memiliki efek ganda yang luar biasa terhadap semangat akademis dan kesejahteraan peserta didik di seluruh penjuru negeri.

Sudut pandang sosiologis dari tim LabSosio UI membeberkan bahwa ada korelasi yang sangat kuat antara nutrisi optimal dengan performa belajar siswa. Hasil evaluasi mencatat, sebanyak 66,4 persen murid merasa jauh lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas. Fakta ini menegaskan bahwa asupan makanan yang bergizi merupakan fondasi mutlak untuk memantik energi, mempertajam daya konsentrasi, serta mendorong motivasi kognitif anak-anak.

Kehadiran MBG juga menjadi angin segar bagi pemerataan kesejahteraan, khususnya bagi siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi sosial ekonomi menengah ke bawah. Program ini sukses bertransformasi menjadi jaring pengaman sosial dalam pemenuhan pangan bergizi yang layak, tercermin dari tingginya skor persepsi kebermanfaatan di angka 4,30.

Baca Juga :  Ketua IJTI : Jurnalis Dituntut Tangguh Hadapi Badai Disrupsi

Lebih dari sekadar makan siang, MBG sukses menyuntikkan kebahagiaan di lingkungan sekolah. Momen bersantap bersama diakui oleh 85,8 persen murid sebagai pengalaman sosial yang sangat menyenangkan. Kualitas sajian yang baik dipadukan dengan interaksi hangat antar-siswa rupanya efektif membangun kebiasaan makan yang lebih teratur sekaligus merajut rasa kebersamaan yang erat di antara mereka.

Temuan UI tersebut sejalan dengan kajian evaluasi berskala masif yang dilakukan secara mandiri oleh pihak Kemendikdasmen sepanjang 2025. Kajian ini tidak main-main, melibatkan sampel raksasa sebanyak 334.128 murid yang tersebar di 11.143 sekolah pada 29 provinsi.

Hasil dari lapangan menunjukkan sentimen yang sangat positif. Sebanyak 69,00 persen responden mengakui adanya perbaikan nyata dalam pola makan dan kualitas gizi harian mereka. Efek domino dari perbaikan gizi ini langsung terasa di lingkungan sekolah: 28,20 persen siswa menjadi lebih bergairah dalam belajar, 27,90 persen mengalami lonjakan tingkat fokus, dan 25,70 persen terbukti lebih rajin datang ke sekolah. Hebatnya lagi, daya tahan tubuh anak-anak kian tangguh, di mana 12,50 persen murid dilaporkan lebih kebal dari penyakit setelah rutin menyantap hidangan MBG.

Baca Juga :  IJTI Audiensi Dengan KSP, Dorong Regulasi Tegas dan Standar Etika di Media Sosial

Image of Badan gizi nasional

Mengingat dampak krusialnya, perluasan jangkauan program terus dikebut oleh pemerintah. Merujuk pada pembaruan data per 18 Februari 2026, MBG telah berhasil mendistribusikan manfaatnya kepada 43,17 juta peserta didik. Angka ini mencakup porsi yang sangat besar dari total 53,4 juta anak yang tercatat dalam sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik), mencerminkan komitmen kuat dalam skala nasional.

Melihat tingginya tingkat penerimaan dan efektivitas di lapangan, program MBG mendesak untuk terus dikawal keberlanjutannya. Peningkatan standar kualitas—mulai dari manajemen distribusi, higienitas, hingga pengawasan ketat terhadap standar gizi—harus terus dievaluasi. MBG kini telah terbukti sahih bukan hanya sebagai bentuk intervensi kesehatan, melainkan pilar utama dalam strategi memajukan kualitas pendidikan di Indonesia.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *