TASIKMALAYA, pewarta.id – Dalam semangat kebersamaan dan rasa syukur, Kota Tasikmalaya bersiap menutup rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 tahun 2025 dengan kegiatan yang sarat makna budaya dan nilai kebersamaan. Melalui inisiatif Warkop (Warung Silaturahmi dan Komunikasi Persoalan) Tasikmalaya yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya, digelar acara Refleksi Milangkala Kota Tasikmalaya ke-24: “Pasamoan Warga – Nu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga.”
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Jum’at, 31 Oktober 2025, pukul 18.30 WIB hingga selesai, bertempat di Aula Bapelitbanda Kota Tasikmalaya lantai 3.
Acara “Pasamoan Warga” menjadi ruang silaturahmi antara masyarakat dan pemerintah. Sebuah momentum untuk duduk bersama, berbagi pandangan, serta merefleksikan perjalanan pembangunan Kota Tasikmalaya sejak berdirinya hingga kini. Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini menjadi simbol rasa syukur dan tekad bersama untuk membawa Tasikmalaya menuju masa depan yang lebih baik.
Melalui semangat “Nu Kiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga”, masyarakat diajak untuk merenungkan nilai-nilai luhur masa lalu yang menjadi fondasi dalam melangkah ke masa depan. Ungkapan ini mengandung makna mendalam: bahwa pembangunan dan kemajuan hanya akan bermakna bila berpijak pada kearifan dan warisan budaya lokal yang telah membentuk jati diri Kota Tasikmalaya.
Ketua Komunitas Cermin Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah, mengatakan bahwa kegiatan refleksi ini bukan sekadar pertemuan seremonial, tetapi juga ajang untuk memperkuat hubungan emosional dan sosial antara warga dengan pemerintahnya.
> “Melalui Pasamoan Warga ini, kami ingin mengajak semua elemen masyarakat untuk duduk bersama, saling menyapa, saling mendoakan, dan bersama-sama merenungkan perjalanan Kota Tasikmalaya. Kita perlu bercermin pada apa yang telah kita lakukan, agar langkah ke depan lebih mantap, penuh makna, dan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Sunda yang menjiwai kehidupan masyarakat Tasikmalaya,” ujar Ashmansyah.
Ia menambahkan, refleksi budaya ini juga menjadi bentuk doa bersama agar Kota Tasikmalaya semakin maju tanpa kehilangan jati diri sebagai kota yang religius, berbudaya, dan penuh gotong royong.
Dalam suasana penuh keakraban, para peserta Pasamoan akan bersama-sama memanjatkan doa kepada Allah SWT sebagai ungkapan rasa syukur atas segala pencapaian sekaligus harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Kegiatan ini diharapkan menjadi wadah refleksi dan komunikasi dua arah antara masyarakat dan pemerintah, untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun kota yang lebih inklusif, maju, dan berdaya saing, tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi dan budaya lokal.
“Menutup rangkaian HUT ke-24 ini, mari kita jadikan Pasamoan sebagai momen kebersamaan, ajang silaturahmi, dan ruang perenungan untuk memperkuat semangat gotong royong membangun Tasikmalaya yang lebih baik,” tambah Ashmansyah.
Dengan suasana penuh kehangatan, kebersamaan, dan doa, “Pasamoan Warga” menjadi simbol bahwa perjalanan Kota Tasikmalaya bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan jiwa dan budaya masyarakatnya.
Menutup perayaan hari jadi dengan semangat budaya dan silaturahmi, acara ini mengajak semua pihak untuk tetap bersyukur, semangat, dan terus menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi jati diri Kota Tasikmalaya.
Salam budaya!
Hatur nuhun. Tasikmalaya ngahiji dina rasa, tumbuh dina budaya, maju dina kebersamaan.











