BANJAR, pewarta.id – Peringatan tahun baru Islam atau Muharaman di Pondok Pesantren Miftahul Huda Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, menampilkan kolaborasi berbagai kesenian tradisional dari berbagai ethnis dan agama, serta permainan tradisional yang hampir punah di era digitalisasi. Acara dengan tema ‘Ngaji Budaya ini, sebagai simbol dan sekaligus untuk memupuk kerukunan antar umat beragama melalui budaya dan kesenian.
Ketua Panitia Gun Gunawan Mengatakan, Bulan Muharram adalah bulan yang istimewa bagi umat Muslim. Bulan yang mengawali tahun penanggalan Islam ini diharapkan membawa semangat iman baru, yang membawa umat Muslim semakin dekat dengan Allah dan mengasihi sesama manusia.
Menurutnya, di bulan Muharram ini umat Muslim mengadakan berbagai kegiatan mulai dari kegiatan rohani peribadahan hingga kegiatan sosial kemasyarakatan dan pertunjukan seni-budaya.
Dalam rangka itu, Pondok Pesantren Miftahul Huda Citangkolo, Kota Banjar menggelar kegiatan bertajuk “Gebyar Muharraman 1445 H”.
“Kigiatan ini bersamaan dengan, dirayakan pula Haul Simbah KH. Abdurrohim yang ke-26 dan hari lahir Pondok Pesantren Citangkolo yang ke-63. Perayaan diselenggarakan secara meriah dengan serangkaian kegiatan yang dimulai sejak 19 Juli 2023 hingga 3 Agustus 2023.” Ungkap Gun Gunawan.
Salah satu kekhasan Pondok Pesantren Citangkolo Kota Banjar dalam merayakan bulan Muharram adalah adanya kegiatan “Ngaji Budaya”. Kegiatan tersebut menghadirkan para tokoh pesantren, intelektual Muslim, dan budayawan Muslim untuk bersama-sama mengkaji ke-Islam-an dalam kaitannya dengan konteks budaya lokal, sembari menikmati berbagai pertunjukan seni.
Pemandangan unik terlihat dalam kegiatan “Ngaji Budaya” tahun ini. Pasalnya, “Ngaji Budaya” pada tahun ini dihadiri dan dimeriahkan pula oleh penampilan musik kolaborasi lintas-agama antara “Angklung Silih Asih” dari Gereja Katolik Santo Filipus Banjar dengan Gamelan Kontemporer “Ki Pamanah Rasa” dari Sakola Motékar, yang notabene semuanya beragama Islam.
Sementara Romo Gatot Pastur dari Gereja Katolik St.Filipus Banjar mengatakan, Musik kolaborasi ini menyajikan berbagai lagu daerah dan lagu nasional secara medley, dengan semangat “Sukacita Hidup Berbangsa”. Mereka membawa pesan yang sangat menginspirasi,
“perbedaan adalah kekayaan Indonesia, jika dihidupi dalam persaudaraan akan membawa sukacita dan kemajuan bangsa. Kolaborasi angklung dan gamelan ini salah satu bukti kecil namun nyata”, ujar Romo Gatot.
Kiai Ma’mun Syarif dari Lesbumi NU (Lembaga Seni Budaya Muslim Nahdlatul Ulama) yang bertindak sebagai koordinator umum “Gebyar Muharram 1445” ini mengungkapkan apresiasi atas keterlibatan saudara-saudari non-muslim dalam kegiatan ini,
“Saya berterima kasih atas dukungan dari berbagai pihak sehingga Gebyar Muharraman 1445 ini dapat terlaksana. Secara khusus saya mengapresiasi teman-teman dari Gereja Katolik St.Filipus Banjar yang mau ikut memeriahkan acara ini. Kehadiran teman-teman non-muslim ini menunjukkan Islam yang inklusif dan Indonesia Bineka Tunggal Ika.” Kata Kiai Ma’mun Syarif dari Lesbumi NU.
Acara di akhiri dengan permainan tradisional jaman dulu yang kini hampir punah oleh era digitalisasi. Mereka berbaur menikmati permainan tradisional semasa kecil, tanpa ada perbedaan agama dan sosial.***











