CIAMIS, pewarta.id – Momen Bulan Ramadan menjadi berkah bagi pelaku usaha home industri kue kering di Dusun Bojongsari, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis. Salah satu contoh sukses adalah usaha home industri kue kering Queen Kitchen yang dijalankan oleh Ratu Fitra Fauzia dan suaminya, Fikri.
Bisnis yang telah berlangsung sejak tahun 2015 ini semakin berkembang, terutama dengan meningkatnya pemesanan menjelang Idul Fitri 2025. Setiap hari, usaha ini mampu memproduksi 20 hingga 50 toples kue kering, tergantung pada jumlah pesanan yang masuk.
Menurut Ratu, bisnis ini dijalankan dengan sistem pre-order (PO), di mana pelanggan memesan terlebih dahulu sebelum produk dikirimkan. “Sebelum Ramadan, sudah banyak yang mengisi daftar pemesanan. Ada yang meminta dikirim di awal, pertengahan, atau menjelang Lebaran,” ungkapnya.
Jenis kue yang diproduksi cukup beragam, mulai dari nastar, semprit, kastangel, trampin, stroberi, hingga coklat. Dari semua varian, nastar menjadi best seller yang paling diminati masyarakat.
Harga kue kering Queen Kitchen bervariasi, mulai dari Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu per toples, tergantung pada jenis kue dan ukuran toples.
Selain pemesanan langsung dari pelanggan, usaha ini juga memiliki reseller yang membeli dalam jumlah besar dengan harga lebih murah. Khusus untuk reseller, harga mulai dari Rp 35 ribu per toples ukuran 600 ml, Rp 45 ribu ukuran 800 ml, dan Rp 55 ribu untuk ukuran 1000 ml, tergantung jumlah pesanan mereka.
Dengan adanya sistem reseller, cakupan pasar pun semakin luas, tidak hanya untuk pelanggan individu tetapi juga untuk toko atau usaha lain yang menjual kembali produk mereka.
Ratu mengakui bahwa penjualan kue kering pada tahun ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Salah satu faktor pendukungnya adalah pemanfaatan platform online, seperti ShopeeFood dan GoFood.
“Tahun ini lebih baik dibanding sebelumnya karena kami mulai serius menjual secara online. Dengan adanya platform digital, pesanan bukan hanya datang dari Ciamis, tetapi juga keluar kota, seperti Garut dan Bandung,” jelasnya.
Namun, meskipun pesanan semakin meningkat, usaha ini tetap mengutamakan kualitas. Ratu menegaskan bahwa mereka tidak akan mengurangi standar bahan baku meskipun terjadi kenaikan harga pada beberapa bahan utama seperti mentega dan telur.
“Kami tetap menjaga kualitas nomor satu, karena kepuasan pelanggan adalah prioritas,” tegasnya.
Keberhasilan usaha ini tidak hanya memberikan manfaat bagi keluarga Ratu dan Fikri, tetapi juga membuka peluang lapangan kerja bagi warga sekitar. Saat ini, produksi masih dikerjakan dalam lingkup keluarga, namun ke depannya, mereka berharap bisa memperluas usaha dan merekrut tenaga kerja dari lingkungan sekitar.
Menurut Fikri, usaha ini bukan hanya sekadar bisnis musiman, tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang cukup menjanjikan selama Ramadan.
“Alhamdulillah, usaha home industri yang dijalankan istri saya ini memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga kami. Meskipun yang bekerja masih terbatas dalam lingkup keluarga, namun tetap menjadi berkah tersendiri, terutama di bulan Ramadan,” ujar Fikri.
Harapannya, dengan berkembangnya home industri ini, Ratu dan Fikri bisa mempekerjakan lebih banyak orang di Dusun Bojongsari, Desa Dewasari. Dengan meningkatnya permintaan setiap tahun, Ratu dan Fikri optimis bahwa bisnis. ***











