West Java Economic Society 2025, Dorong Pertumbuhan ekonomi Priangan Timur
TASIKMALAYA, pewar.id – Dalam upaya mendorong perkembangan ekonomi di kawasan Priangan Timur, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya menyelenggarakan Sarasehan West Java Economic Society (WJES) Priangan Timur 2025. Kegiatan tahunan ini mempertemukan Bank Indonesia, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), akademisi, dan masyarakat di Bale Priangan pada Selasa, 27 Mei 2025.
Muhamad Nur, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor yang berbasis pada data sebagai landasan untuk menetapkan kebijakan ekonomi daerah, serta merumuskan strategi percepatan pembangunan ekonomi di wilayah Jawa Barat.
“WJES ini telah memasuki tahun keenam, dengan Fokus utamanya adalah menyusun rekomendasi bagi pemerintah provinsi terkait langkah-langkah strategis jangka pendek, menengah, hingga panjang, ungkapnya.
Nur juga menyampaikan bahwa meskipun terdapat sedikit perlambatan, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat masih berada dalam tren positif.
“Pada 2024, angka pertumbuhan mencapai 5,42 persen, sedangkan pada Semester I 2025 angka tersebut menurun tipis menjadi 4,98 persen. Walaupun demikian, seluruh 27 kota dan kabupaten tetap mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif.”Ujarnya.
Muhamad Nur turut menyoroti ketimpangan struktur ekonomi antar wilayah. Kawasan utara cenderung didominasi oleh sektor industri, sementara Priangan Timur relatif bergantung pada sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata. Ketimpangan ini harus menjadi perhatian dalam menyusun kebijakan pembangunan ekonomi ke depan.
Dari perspektif akademisi, Dr. Keni Kaniawati, Sekretaris II ISEI Bandung Koordinator Jawa Barat, menegaskan perlunya penguatan sektor UMKM sebagai ujung tombak ekonomi lokal.
“Salah satu solusi yang relevan saat ini adalah pendampingan konkret terhadap UMKM, khususnya dalam hal pemasaran digital dan inovasi dengan melibatkan sinergi ppentahelx,” jelasnya.
Keni memaparkan bahwa kerja sama antara ISEI dan Bank Indonesia telah menjadi model kemitraan yang efektif dalam memantapkan ketahanan ekonomi di daerah. Melalui program inkubator bisnis, kami terus mendorong penguatan kelembagaan UMKM di berbagai fase—baik inkubasi maupun pasca-inkubasi. Target akhirnya adalah mengantarkan produk UMKM ke pasar ekspor.
Pada akhir pernyataannya, Keni menekankan urgensi penerapan solusi lokal berbasis data di tengah tantangan global.
“Dengan memanfaatkan kearifan lokal dan inovasi yang didukung oleh big data, kita dapat merumuskan kebijakan yang lebih kontekstual dan aplikatif.” pungkasnya
Sarasehan ini diharapkan menjadi platform strategis untuk menyusun arah kebijakan ekonomi Jawa Barat yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya bagi perkembangan ekonomi Priangan Timur.***
Facebook Comments Box











