Teater Lesbumi Tasikmalaya Lolos Pentas di Lanjong Art Festival 2025, Usung Nilai Kesundaan di Panggung Nasional

Image of Lesbumi (3)
Dari Kiri Adel Trifawijaya (pemain), Pongkir Wijaya (pemain), Wit Jabo (Sutradara), Ashmansyah Timutiah (Acong) Ketua Komunitas Cermin Tasikmalaya (KCT) II Photo. Pewarta.id.

CIAMIS, Pewarta.id – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia  (Lesbumi) PCNU Kota Tasikmalaya mencetak prestasi membanggakan dengan berhasil masuk sebagai salah satu dari 10 kelompok teater terpilih yang akan tampil di ajang Lanjong Art Festival 2025 di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Festival bergengsi ini akan digelar pada 22–28 Agustus dan didukung langsung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Lanjong Art Festival merupakan panggung seni berskala nasional dan internasional yang menampilkan kelompok teater terpilih dari berbagai provinsi di Indonesia, seperti Yogyakarta, Lampung, Sumatera Barat, Banten, Jakarta, hingga Palu. Bahkan, beberapa seniman dari lima hingga enam negara akan hadir sebagai penampil tamu dalam ajang tersebut.

Sutradara Teater Lesbumi PCNU Kota Tasikmalaya, Wit Jabo, menyampaikan rasa syukurnya atas kesempatan tampil dalam Lanjong Art Festival 2025 yang akan digelar di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada tanggal 20–28 Agustus mendatang. Dari sekian banyak kelompok teater yang mengikuti seleksi terbuka se-Indonesia, hanya 11 yang lolos, termasuk Lesbumi Tasikmalaya.

“Alhamdulillah kami lolos seleksi. Banyak kelompok yang mendaftar karena ini ajang terbuka secara nasional, dan hanya 11 kelompok yang terpilih untuk tampil,” ungkap Wit.

Lanjong Art Festival, menurutnya, bukan sekadar ajang nasional. Festival ini berskala internasional karena turut dihadiri seniman-seniman luar negeri sebagai penampil eksibisi. Selain kelompok teater dari berbagai daerah di Indonesia, akan ada pula delegasi dari lima hingga enam negara yang tampil sebagai bintang tamu. Tahun ini, panitia mengusung tema besar: “Habis Barat Terbitlah Timur”.

Image of Lesbumi (3)

Dalam merespons tema tersebut, Wit Jabo memilih untuk menggali kearifan lokal Sunda, terutama filosofi Tritangtu—sebuah konsep nilai dalam budaya Sunda yang mencakup Tata Salira, Tata Nagara, dan Tata Buwana.

“Naskah yang kami bawa menceritakan tentang sebuah keluarga yang hidup dalam dunia teater. Dalam Tata Salira, saya masukkan unsur ucap, tekat, dan lampah sebagai refleksi nilai kehidupan. Bagaimana seorang seniman harus mengabdi pada teater, sementara kehidupan sehari-harinya penuh kesulitan,” jelasnya.

Baca Juga :  Diskusi Budaya Sepak Bola: Tantangan dan Peluang Sepak Bola di Tasikmalaya

Namun, di balik kisah penuh perjuangan itu, Wit menekankan adanya keteguhan hati—bahwa seniman tetap melangkah karena percaya bahwa rezeki telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa.

“Anak panggung, di negeri panggung, Ini seperti lagu Ahmad Albar, ‘Dunia ini panggung sandiwara’. Kita semua sedang memainkan peran masing-masing, dan Tuhan adalah sutradaranya.”ucap wit jabo

Ia juga mengaitkan filosofi Tri tangtu atau tiga lapis panggung kehidupan dengan ranah yang lebih luas, termasuk politik. “Bung Karno pernah mengadopsi gagasan ini dalam konsep Tri Sakti: kedaulatan politik, berdikari dalam ekonomi, dan berdikari dalam kebudayaan. Itu bentuk manifestasi dari Tri tangtu dalam ranah kenegaraan,” tambahnya.

Image of Lesbumi (2)

Lebih jauh, Wit menegaskan bahwa keselarasan antara tekan (niat), ucap (perkataan), dan lampah (perbuatan) dalam diri individu akan menciptakan keseimbangan hidup.

Menutup pernyataannya, Wit menyampaikan harapan besar untuk pertunjukan mereka di Kalimantan Timur. “Harapan kami bisa berangkat dan pulang dengan lancar dan selamat. Semoga pertunjukan kami bisa diterima baik oleh penonton dan dewan juri. Karena ini perlombaan, kami berharap bisa memberikan yang terbaik. Hanya akan ada satu aktor dan satu sutradara terbaik, tidak ada juara dua atau tiga. Jadi kami akan tampil total.”harapnya.

 “Anak Panggung, Di Negeri Panggung”  ini adalah karya yang kami siapkan sebagai delegasi dari Tasikmalaya untuk tampil di Lanjong Art Festival 2025. Bagi kami, ini adalah momen penting untuk menunjukkan eksistensi Tasikmalaya di panggung berskala internasional,” ujar Ashmansyah Timutiah, Ketua Komunitas Cemin Tasikmalaya, yang akrab disapa Kang Acong.

Image of Lesbumi (1)

Ia menegaskan bahwa pementasan ini mengandung banyak idiom dan filosofi tentang Kesundaan, terutama dalam konteks spiritualitas dan kearifan lokal Tasikmalaya. “Saya pikir sangat menarik bagaimana kesenian bisa menjadi jembatan untuk mengenalkan spiritualitas Sunda ke publik nasional bahkan internasional.”

Baca Juga :  Kepala Desa Cintaratu Ciamis Sukses Wujudkan Nol Stunting Lewat Inovasi PMT dan Digitalisasi Posyandu

Menurut Kang Acong, naskah Anak Panggung di Negeri Panggung mengandung tafsir yang luas. Ia bisa dimaknai sebagai potret anak bangsa dalam dinamika kehidupan bernegara. Bisa juga sebagai refleksi para pelaku teater, yang kerap menghadapi realitas kontras antara kehidupan di atas panggung dan kenyataan sehari-hari.

“Ketika di panggung mereka dipuji, tepuk tangan mengiringi. Tapi setelah turun dari panggung, mereka dilupakan. Bahkan negara pun kerap abai terhadap nasib para anak panggung ini,” katanya.

Ia menyoroti bahwa kondisi politik dan sosial saat ini masih jauh dari harapan masyarakat yang benar-benar merdeka. “Secara formal kita memang sudah merdeka, tapi kenyataannya banyak hal masih menjadi problematika anak bangsa. Dalam kesenian, misalnya, masih ada banyak penjagalan.”

Acong merujuk pada beberapa kasus pelarangan kegiatan seni di berbagai daerah, termasuk di Tasikmalaya, Bandung, dan kota lainnya. “Karya-karya yang justru membawa nilai dan pesan, malah dijegal. Ini menunjukkan bahwa panggung nasional belum sepenuhnya memerdekakan dunia teater dan kesenian.”

Ketika ditanya soal makna kemerdekaan bagi seniman tahun ini, Kang Acong menjawab dengan jujur, “Kalau bicara merdeka sebagai individu, mungkin bisa. Tapi untuk merasa merdeka sebagai seniman di negeri ini, rasanya masih sangat jauh.”

Ia menyebut masih banyak penyegalan terhadap karya seni, mulai dari seni rupa hingga pertunjukan teater. “Di museum nasional pun masih terjadi penurunan karya. Ini ironi di tengah negara yang katanya sudah merdeka.”

Menutup pernyataannya, Kang Acong menyampaikan harapannya untuk Teater Lesbumi Tasikmalaya yang akan berangkat ke Kalimantan. “Mudah-mudahan teman-teman diberi kelancaran secara fisik maupun material. Perlu dukungan dari pemerintah dan berbagai lembaga agar mereka bisa membawa misi budaya ini dengan baik. Mereka membawa nama Tasikmalaya, membawa nilai-nilai luhur yang patut kita dukung bersama.”

Facebook Comments Box

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *