CIAMIS, Pewarta.id – Upaya menjaga kelestarian satwa liar di kawasan Suaka Margasatwa Gunung Sawal terus diperkuat Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Ciamis melalui edukasi kepada masyarakat, khususnya Mitra Polhut (MMP) yang menjadi ujung tombak di lapangan.
Kepala Seksi BKSDA Wilayah III Ciamis, Ahmad Arifin, menegaskan bahwa pendekatan edukatif menjadi kunci dalam menciptakan keseimbangan antara keselamatan masyarakat dan kelestarian satwa liar, terutama macan tutul Jawa yang kini berstatus terancam punah.
Berdasarkan hasil survei terbaru, sedikitnya lima individu macan tutul Jawa terdeteksi di kawasan Gunung Sawal melalui pemasangan kamera jebak di sejumlah titik pengamatan. Temuan ini menunjukkan bahwa habitat masih cukup representatif dan mendukung perkembangbiakan satwa dilindungi tersebut.
“Edukasi kepada masyarakat menjadi penting agar tercipta kehidupan yang harmonis antara manusia dan satwa liar. Masyarakat harus aman, satwa juga harus tetap terlindungi,” Kata Kepala Bidang BKSDA Wilayah III Ciamis, Ahmad Arifin, di Hotel Priangan- Ciamis – Rabu (5/7/2026).
Dalam praktiknya, BKSDA bersama mitra aktif melakukan berbagai langkah mitigasi konflik, mulai dari patroli bersama, pengusiran satwa secara aman, hingga penguatan kandang ternak milik warga agar tidak mudah diserang predator.
Tak hanya itu, pemerintah daerah juga turut hadir memberikan dukungan, termasuk bantuan penggantian ternak bagi warga yang terdampak konflik satwa liar. Hal ini dinilai mampu meredam potensi konflik dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak melukai satwa dilindungi.
Diversifikasi Media Edukasi
Sebagai bagian dari strategi edukasi, BKSDA menggandeng berbagai pihak untuk mengembangkan materi sosialisasi yang lebih menarik dan relevan bagi masyarakat. Mulai dari infografis keanekaragaman hayati, buku cerita anak, hingga poster edukatif yang menampilkan potensi biodiversitas di desa sekitar kawasan hutan.
Langkah ini didasarkan pada fakta bahwa mayoritas masyarakat kini mengakses informasi melalui gawai, namun hanya sebagian kecil yang mengonsumsi konten terkait lingkungan. Karena itu, pendekatan edukasi dibuat lebih kreatif agar mampu menjangkau generasi muda.
Selain itu, BKSDA juga melibatkan tokoh agama dengan menyusun materi khutbah Jumat bertema konservasi, serta menggandeng akademisi dan pakar untuk memastikan pesan edukasi yang disampaikan tepat sasaran dan efektif.
Peran Strategis Mitra Polhut
Mitra Polhut dinilai memiliki peran strategis sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Mereka tidak hanya membantu pengawasan kawasan, tetapi juga menjadi agen edukasi di tingkat desa.
Pengamat satwa liar, Erwin Wilianto, menyebut bahwa pemahaman masyarakat terhadap perilaku satwa, khususnya macan tutul, masih perlu ditingkatkan. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan saat beraktivitas di sekitar hutan, seperti tidak beraktivitas sendirian, menjaga kebersihan lingkungan, serta memperkuat kandang ternak.
“Mitra Polhut harus dibekali pemahaman ekologi satwa dan kemampuan komunikasi yang baik agar bisa memberikan edukasi yang tepat kepada masyarakat,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa kemunculan satwa ke wilayah permukiman kerap dipengaruhi faktor alam, seperti musim kemarau yang membuat sumber air dan mangsa berkurang di habitat aslinya.
Dengan sinergi antara BKSDA, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat melalui Mitra Polhut, diharapkan konflik manusia dan satwa liar dapat diminimalkan, sekaligus menjaga kelestarian macan tutul Jawa sebagai salah satu satwa endemik yang tersisa di Pulau Jawa.**











