CIAMIS, pewarta.id – Bulan suci Ramadan selalu membawa cerita tersendiri bagi masyarakat pedesaan. Di balik ramainya pasar takjil dan meja berbuka puasa, ada tangan-tangan sederhana yang bekerja sejak pagi demi memenuhi kebutuhan pangan musiman. Salah satunya adalah Ade Suryaman, perajin kolang kaling di Lingkungan Awirarang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. yang hingga kini masih setia menggantungkan hidup dari pohon aren.
Sehari-hari, Ade dikenal sebagai pekerja serabutan. Namun ketika Ramadan tiba, aktivitasnya lebih banyak dihabiskan di sekitar kebun dan dapur produksi kolang kaling. Dari hasil memetik dan mengolah buah aren itulah, ia mengais rezeki untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
“Kalau sekarang mah sama saja, Pak, kayak dulu-dulu. Enggak ada perubahan harga,” ujar Ade saat ditemui di sela aktivitasnya.Selasa (24/02/2026).
Harga Stabil, Permintaan Tetap Tinggi
Menurut Ade, harga kolang kaling pada Ramadan tahun ini terbilang stabil. Tidak ada lonjakan signifikan meski permintaan meningkat.
“Kalau dari saya yang ambil itu Rp8.000 per kilo,” katanya.
Namun, harga tersebut masih kerap ditawar oleh pembeli. Meski demikian, Ade mengaku tetap bersyukur karena permintaan kolang kaling selama Ramadan tergolong tinggi.
“Permintaannya memang banyak, Pak. Kalau ada barang di rumah, itu lumayan,” ujarnya.
Hampir setiap hari ada saja warga yang datang langsung ke rumahnya untuk membeli kolang kaling, baik dalam jumlah kecil maupun besar. Ada yang membeli senilai Rp20 ribu, Rp50 ribu, bahkan lebih, tergantung ketersediaan barang.
Produksi Terbatas, Bahan Baku Kian Sulit
Meski permintaan tinggi, Ade menghadapi tantangan besar dari sisi produksi. Saat ini, kemampuan produksinya justru menurun akibat keterbatasan bahan baku.
“Sekarang sedikit. Paling 10 sampai 15 kilo sehari,” ungkapnya.
Ia mengakui, mencari buah aren kini tidak semudah dulu. Meski sebagian masih bisa ditemukan di sekitar rumah, jumlahnya semakin terbatas.
“Sudah ada bahan bakunya, tapi sudah sulit nyarinya. Makanya diirit-irit biar cukup sampai pertengahan bulan Ramadan,” jelasnya.
Strategi menghemat bahan baku terpaksa dilakukan agar produksi tetap berjalan meski dengan volume terbatas.
Tidak Masuk Pasar, Pembeli Datang Langsung
Berbeda dengan pedagang besar, Ade tidak menyalurkan kolang kalingnya ke pasar tradisional. Ia memilih menjual langsung dari rumah kepada pelanggan tetap maupun pembeli harian.
“Enggak dikirim ke mana-mana. Ada yang ambil saja di sini,” katanya.
Menurut Ade, pembeli datang dari berbagai kalangan. Ada yang untuk kebutuhan rumah tangga, ada pula yang membeli untuk dijual kembali dalam bentuk es campur atau kolang kaling manisan sebagai menu berbuka puasa.
Ramadan Jadi Sumber Berkah
Bagi Ade, Ramadan membawa berkah tersendiri dibanding hari-hari biasa. Di luar bulan puasa, ia hanya mengolah gula aren dalam jumlah terbatas.
“Kalau hari biasa paling bikin gulanya saja. Tapi Ramadan mah beda,” ujarnya.
Ia menilai seluruh bagian pohon aren benar-benar memberi manfaat, tanpa ada yang terbuang.
“Biasanya pohon aren semuanya berguna. Enggak ada yang dibuang,” kata Ade.
Bertahan Sejak 1998, Belum Ada Penerus
Menekuni usaha kolang kaling bukan hal baru bagi Ade. Ia mengaku sudah menjalani pekerjaan ini sejak tahun 1998 dan tetap bertahan hingga sekarang.
“Dari tahun 98, Pak,” tuturnya.
Namun hingga kini, belum ada penerus dari keluarganya yang melanjutkan usaha tersebut.
“Belum ada. Sementara baru bapak saja,” katanya, sambil tersenyum.
Meski demikian, Ade tetap menjalani pekerjaannya dengan penuh kesabaran. Baginya, selama masih bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga, pohon aren akan terus menjadi sandaran hidup.
Kisah Ade Suryaman menjadi potret kecil bagaimana Ramadan tidak hanya soal ibadah dan kebersamaan, tetapi juga tentang perjuangan masyarakat kecil yang menggantungkan harapan pada rezeki musiman. Di tengah keterbatasan bahan baku dan produksi, kolang kaling tetap menjadi sumber berkah yang menghidupi dapur-dapur sederhana di pedesaan.***











