Musim Kemarau Jadi Berkah, Warga Ciamis Berburu Ikan dengan Cara Ekstrem di Sungai Citanduy

Image of Ngalintar

CIAMIS, pewarta.id – Musim kemarau yang identik dengan kekeringan justru membawa berkah tersendiri bagi sebagian warga di Kabupaten Ciamis. Di aliran Sungai Citanduy, tepatnya di Blok Kopo, Dusun Cikole Kulon, Desa Cijulang, Kecamatan Cihaurbeuti, warga memanfaatkannya untuk berburu ikan dengan cara yang cukup ekstrem, Senin (10/8/2026).

Aktivitas ini dikenal dengan istilah “ngalintar”, yakni tradisi menangkap ikan menggunakan jala, kecrik, hingga tangan kosong. Uniknya, sebagian warga harus menyelam ke dasar sungai untuk mencari ikan yang bersembunyi di sela batu, akar bambu, hingga tumpukan ranting.

Salah seorang warga, Heri, mengungkapkan bahwa musim kemarau menjadi waktu yang paling ditunggu oleh para pencari ikan.

“Kalau musim kemarau, yang suka menyelam pasti turun ke sungai. Ikan di sini banyak, seperti caung, balar, hampal, sampai bebeong,” ujarnya.

Menurutnya, hasil tangkapan tidak selalu sama setiap hari. Namun jika beruntung, ikan bisa dimanfaatkan untuk konsumsi pribadi maupun dijual kepada warga lain yang memesan.

Baca Juga :  Ciamis Genjot Desa Wisata Menuju Level Nasional, Dorong Ekonomi dan Kearifan Lokal

Senada dengan itu, warga lainnya, Rudy, mengatakan bahwa teknik menangkap ikan secara tradisional membutuhkan kemampuan menyelam yang cukup baik. Ia menyebut, para pencari ikan bisa bertahan di dalam air hingga hampir satu menit.

“Biasanya tangan dimasukkan ke sarang ikan di bawah batu atau akar. Di situ tempat ikan bersembunyi,” jelasnya.

Dalam sehari, Rudy mengaku bisa mendapatkan hingga 5–6 kilogram ikan. Sebagian hasilnya dijual, sementara sisanya dikonsumsi sendiri.

Sementara itu, Kepala Desa Cijulang, Endang Hidayat, S.T., menyebut aktivitas ngalintar tidak hanya dilakukan warga lokal, tetapi juga menarik komunitas pecinta lintar dari berbagai daerah.

“Ini sudah jadi kegiatan rutin setiap musim kemarau. Mereka datang dari berbagai komunitas dan memanfaatkan Sungai Citanduy sebagai sumber rezeki,” katanya.

Ia menambahkan, jenis ikan yang banyak ditemukan saat ini didominasi oleh ikan bebeong dan caung, sementara ikan putih seperti nilem dan balar jumlahnya lebih terbatas.

Baca Juga :  SANTI PAGUYUBAN KEDIRI PRIANGAN, GELAR GATHERING DI TAHURA DJUANDA BANDUNG

Ke depan, pihak desa berencana berkoordinasi dengan pemerintah daerah melalui dinas perikanan untuk melakukan penebaran benih ikan di Sungai Citanduy.

“Insya Allah akhir bulan ini akan dilakukan penanaman ikan seperti nilem, nila, dan lukemas agar ke depan stok ikan tetap terjaga dan bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

Endang juga memastikan aktivitas tersebut relatif aman dilakukan saat musim kemarau, karena debit air sungai menurun sehingga kondisi lebih terkendali.

“Kalau musim hujan, air bisa meluap sampai ke pinggir. Tapi saat kemarau seperti sekarang, lebih aman dan ikan juga cenderung berkumpul,” pungkasnya.

Tradisi ngalintar pun menjadi gambaran bagaimana masyarakat lokal mampu beradaptasi dengan alam, sekaligus memanfaatkan kondisi musim untuk menopang kebutuhan ekonomi sehari-hari.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *