TASIKMALAYA, pewarta.id – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Tasikmalaya tahun ini terasa istimewa. Sejumlah komunitas pencinta alam dan pegiat sejarah melakukan pengibaran Bendera Merah Putih di Sasak Buntung, sebuah jembatan bersejarah di kawasan wisata Talaga Puputan Karangresik, Minggu (10/8/2025).
Kegiatan ini tidak hanya menjadi simbol semangat nasionalisme, tetapi juga ajang mengenang pertempuran heroik pada 7 Agustus 1947 yang terjadi di lokasi tersebut. Pertempuran itu melibatkan Divisi III (sekarang Kodam III/Siliwangi) melawan pasukan Belanda dalam Agresi Militer I, yang bertujuan merebut Pangkalan Udara Wiriadinata di Tasikmalaya.
Pengibaran bendera kali ini diinisiasi oleh Forum Komunikasi Pecinta Alam Tasikmalaya, Tasikmalaya Caving Community, Republik Air, dan Gerakan Pramuka Kota Tasikmalaya.
Ketua Republik Air, Herniwan Obech, mengungkapkan kegiatan ini lahir dari dorongan hati untuk menghormati para pahlawan yang mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan.
“Jembatan Kalangresik atau Sasak Buntung ini punya nilai sejarah luar biasa. Pada 7 Agustus 1947 terjadi pertempuran besar di sini. Pasukan Belanda mencoba masuk dan menguasai pangkalan udara, tapi dihadang oleh pasukan Divisi III. Enam jam pertempuran terjadi hingga banyak korban berjatuhan di pihak musuh. Ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan diraih dengan darah dan air mata,” ujarnya.
Herniwan menambahkan, pihaknya berencana agar kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan pada momentum kemerdekaan saja, tetapi juga menjadi agenda tahunan, termasuk upacara peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November di lokasi tersebut.

Sejarah pertempuran di Sasak Buntung juga diceritakan oleh Idi Suhara, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Sukamanah, yang akrab disapa Abah Idi. Ia adalah putra dari pejuang Entoy Tohari, salah satu anggota Divisi III yang terlibat langsung dalam pertempuran tersebut.
Menurutnya, pertempuran terjadi selepas salat Isya, ketika pasukan Belanda bergerak dari arah barat menuju Tasikmalaya. Divisi III sudah menyiapkan strategi, salah satunya membom lantai jembatan agar kendaraan berat seperti tank tidak bisa melintas.
“Pertempuran berlangsung enam jam. Tiang jembatan ini menjadi saksi bisu keberanian para pejuang. Banyak korban di pihak Belanda, sementara pasukan kita berhasil mempertahankan posisi strategis ini,” tuturnya.
Abah Idi menegaskan, sejarah heroik ini perlu dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda. Ia berharap pemerintah daerah maupun provinsi bisa membangun museum perjuangan di kawasan Talaga Puputan Karangresik.
“Tasikmalaya sampai sekarang belum punya museum khusus untuk mengenang peristiwa bersejarah ini. Padahal ada patung perjuangan dan peninggalan bersejarah di sini, sayangnya kurang terawat. Kami minta kepada Wali Kota dan Gubernur agar lokasi ini dijadikan wisata edukasi dan sejarah nasional,” tegasnya.
Selain museum, Abah Idi juga mengusulkan pemugaran patung perjuangan, pengembalian tank bersejarah yang dulu ada di kawasan ini, serta penataan lingkungan agar nilai sejarahnya tetap terjaga.
Kegiatan pengibaran bendera merah putih di Sasak Buntung ditutup dengan doa bersama dan refleksi sejarah. Para peserta mengaku bangga dapat terlibat dalam kegiatan yang tidak hanya bernuansa patriotik, tetapi juga memberi wawasan tentang sejarah perjuangan di Tasikmalaya.
Semangat yang terpancar dari acara ini diharapkan menjadi api pembakar nasionalisme bagi generasi muda, agar mereka tidak melupakan bahwa kemerdekaan Indonesia diraih melalui perjuangan panjang dan pengorbanan besar.***











